Load more

Sejarah Kelam Singapura, Tanah Melayu yang Dikuasai China

Shares ShareTweet
Presiden Yusof bin Ishak memeriksa barisan pasukan pada saat perayaan hari kemerdekaan Singapura. Berawal dari negara dengan populasi melayu dan Islam mayoritas, secara sistematis penduduk pribumi tersingkirkan dari semua bidang kehidupan negara tersebut. Singapura kini menjadi negara dengan populasi China terbesar di Asia Tenggara. (Foto: Istimewa)
"Menurut statistik dalam 'Straits limes' penduduk Singapura baru 6 ribu orang, memang sudah ada orang Tionghoa di masa itu, tapi bangsa Indonesia jauh lebih banyak, lebih kurang 90 persen dari semua penduduk,"
SINGAPURA -- Hari ke sembilan setiap bulan Agustus adalah hari yang sakral bagi warga Singapura. Sebab, tepat pada 9 Agustus 1965, Negeri Singa resmi memisahkan diri dari Malaysia. Dan dianggap sebagai hari kemerdekaan Singapura.

Selain Hari Kemerdekaan yang berdekatan, tautan sejarah Indonesia dengan Singapura ditandai dengan mantan Presiden Yusof bin Ishak. Presiden pertama Singapura itu ternyata memiiki darah keturunan Minangkabau.

“Tentu saja, kami sangat mengenal nama Yusof Ishak. Semua warga Singapura pasti kenal dia. Jika ada yang tidak tahu, berarti ia tidak melek sejarah,” puji salah satu warga Singapura, Keng Yam, Kamis (11/8/2016).

Yusof bin Ishak adalah pria kelahiran 12 Agustus 1910 Padang Gajah, Trong, Perak, Singapura. Ia adalah Presiden pertama di Singapura semenjak Negeri Singa itu berubah menjadi republik, sekira 51 tahun yang lalu, tepatnya pada 9 Agustus 1965.

Ia berhasil menjabat sebagai kepala negara setelah People’s Action Party (PAP) memenangkan pemilihan umum pertama pada 30 Mei 1959. Dia menggantikan Yang di Pertuan Negara pertama dan Gubernur Singapura, William Goode.

Satu hal yang menarik dan patut jadi kebanggaan buat rakyat Indonesia, presiden pertama Negeri Singa ini ternyata adalah keturunan Minangkabau. Leluhurnya adalah seorang bangsawan Minangkabau, Datok Jonathan.

Namun kemudian pada 1789, leluhurnya bersama dengan adik laki-lakinya, Datok Setia dan 80 orang pengikutnya bermigrasi ke Kedah dan bersumpah setia kepada Sultan Kedah.

Presiden pertama Singapura, Yusof bin Ishak, memiliki darah keturunan Minangkabau. (Foto: singaporeink.net)
Yusof adalah anak tertua dari sembilan anak dan ayahnya adalah Ishak bin Ahmad. Sebagai orang terdidik, Ishak menemukan pekerjaan di Malayan Administrative Service dan menjabat sebagai pegawai di kantor Kecamatan di Taiping dan kemudian di Departemen Perikanan.

Pada 1923, Yusof kemudian dipindahkan ke Singapura untuk menjabat posisi asisten inspektur perikanan. Dia adalah orang pertama non-Eropa yang menjadi Direktur Departemen Perikanan. Demikian sebagaimana dilansir Singapore Infopedia, Rabu (10/8/2016).

Yusof kemudian bergabung dengan Akademi Polisi di Kuala Lumpur. Namun karena beberapa perbedaan pendapat, ia akhirnya meninggalkan akademi tersebut dan kembali ke Singapura.

Menilik kariernya, Yusof sempat terjun sebagai seorang wartawan. Ia bergabung dalam sebuah koran Warta Malaya sebagai seorang juru tulis. Warta Malaya merupakan perwakilan dari suara Arab di Singapura dan dipengaruhi oleh perkembangan di Timur Tengah.

Yusof bin Ishak juga merupakan seorang atlet berprestasi. Ia sempat mewakili Indonesia dalam berbagai perlombaan termasuk hoki, kriket, renang, polo air, bola basket, tinju dan angkat besi.

Sebagai petinju, ia pernah memenangkan piala Aw Boon Par pada 1932. Dalam bidang angkat besi, ia menjadi juara kelas ringan tingkat nasional pada 1933.

Sebagai presiden pertama, wajahnya juga muncul di uang kertas Dolar Singapura dalam berbagai nilai. Pernah dalam pecahan 2, 5, 10, 20, 50, 1.000 dan 10.000 dolar Singapura.

Singapura Benteng China Perantauan

Singapura meski berada di tanah Melayu dan awalnya merupakan wilayah dengan populasi melayu dan Islam sebagai penduduk pribumi mayoritas, namun kini 75% populasinya adalah keturunan Tionghoa.

Penduduk pribumi secara perlahan-lahan tersingkirkan dari Singapura, akibat hampir semua institusi penting di negara itu dikuasai etnis China. Akibatnya saat ini, Singapura menjadi benteng terpenting jaringan bisnis China Perantauan.

Presiden Yusof bin Ishak diabadikan dalam mata uang dolar Singapura.
Sejak berpisah dari federasi kerajaan-kerajaan Melayu di tahun 1965, negara kota itu terus berbenah diri. Dengan segala kelihaiannya Singapura berhasil memanfaatkan praktek kotor yang terjadi di Indonesia, Filipina, dan Thailand.

Bank-bank mereka, selalu siap untuk menampung semua hasil kegiatan ilegal dari negara-negara tersebut.

Dan menjadi basis utama tempat pencucian uang yang paling aman. Meski Singapura ditunjang oleh infrastruktur dan korporasi yang baik, namun tak sedikit pula uang-uang haram itu menggerakkan turbin perekonomian mereka.

Sterling Seagrave dalam bukunya “Lord of The Rim“, menyebutkan bahwa jaringan China Perantauan merupakan kelompok masyarakat yang cukup dinamis, ulet, dan tangguh.

Tak salah kiranya jika mereka banyak menguasai usaha-usaha swasta di seberang lautan, terutama di kawasan Nanyang (Asia Tenggara).

Singapura Dulu Dikuasai Indonesia


Sejarah Singapura memang lekat dengan Inggris, Sir Thomas Stamford Raffles, yang mengubah Singapura dari pulau tak bertuan menjadi kawasan yang bernilai tinggi.

Sebelum dikontrol oleh Inggris, Singapura didiami oleh para nelayan setempat, para bajak laut, dan kemudian menjadi bagian dari kekaisaran kerajaan Sriwijaya, Sumatera. Singapura merupakan wilayah kota perdagangan tersibuk ketika itu.

Tan Malaka dalam buku berjudul: 'Dari Penjara ke Penjara', mengatakan pada masa Rafles bahkan penduduk Singapura ketika itu sebanyak 6 ribu orang, dan dikuasai orang-orang Indonesia.

Lee Kwan Yew mendatangi wilayah muslim pribumi Singapura guna meraih dukungan suara untuk maju dalam pemilihan Perdana Menteri Singapura. Salah satu strategi Lee Kwan Yew saat itu adalah memposisikan dirinya seperti penduduk pribumi asli, seperti memakai peci, kain sarung, dan lain-lain. (Foto: Istimewa)
"Menurut satu statistik yang saya baca dalam 'Straits limes' penduduk Singapura baru 6 ribu orang, memang sudah ada orang Tionghoa di masa itu, tapi bangsa Indonesia jauh lebih banyak. Kalau saya masih ingat adalah lebih kurang 90 persen dari semua penduduk," kata Tan dalam buku itu.

Bukan hanya soal jumlah penduduk, tetapi hampir seluruh mata pencaharian penduduk di sana masih di tangan orang Indonesia (Melayu, Minangkabau, Jawa, Bugis, Palembang, dan lain-lain). Perusahaan, pelayaran, perikanan, perdagangan, dan lainnya, sebagian besar masih di tangan bangsa Indonesia.

Apalagi di pedalaman, kata Tan. Semua mata pekerjaan masih di tangan pribumi (Indonesia). Misalnya pertambangan timah yang terkenal ketika itu, semuanya dikuasai oleh orang-orang Indonesia.

"Di sebutkan dalam satu tulisan bahwa menjelang penghabisan abad yang lalu, perusahaan timah terbesar ialah dimiliki dan diusahakan oleh seorang majikan bernama Raja Mandailing," tutur Tan.

Namun ketika Singapura dikuasai Inggris, banyak imigran-imigran asing datang ke sana, di antaranya bangsa Tionghoa dan Hindustan.

Awalnya mereka juga ada yang bekerja menjadi kuli bersama penduduk pribumi. Tetapi perlahan-lahan, imigran-imigran itu menetap dan jumlahnya kian banyak.

Kondisi ekonomi mereka juga terangkat, hingga akhirnya banyak orang-orang bangsa Tionghoa dan Inggris justru menguasai perkebunan-perkebunan.

Cuma ladang getah 'setelapak tangan' luasnya yang dimiliki penduduk asli. Ironisnya, hasil getah setelapak tangan itu pun jatuh ke bawah peraturan "restriction" (pembatasan).

Pada 1937, kata Tan Malaka, jumlah penduduk Singapura ditaksir mencapai 700 ribu orang. Di antaranya ditaksir 600 ribu orang Tionghoa atau sekitar 85 persen, orang Keling-Hindu sebanyak 70 ribu orang atau 10 persen, sedangkan orang Melayu sebanyak 30 ribu orang atau hanya sekitar 5 persen saja.

Perdana Menteri Singapura Lee Kwan Yew, saat bertemu dengan pemimpin Komunis China Deng Xiaoping. (Foto: Istimewa)
"Demikianlah jatuh perbandingan banyak bangsa Melayu yang semula 90 persen, tapi ketika Inggris masuk, menyusut sampai tinggal 5 persen, atau 1 persen, dari jumlah penduduk dalam waktu satu abad di kemudian hari."

Indonesia Moderen Berpotensi Menjadi Singapura ke-Dua

Belajar dari invasi China di Singapura, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia Prof Dr Nazaruddin Sjamsuddin, MA., mengingatkan masyarakat, terutama warga Jakarta akan kemungkinan Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta dalam Pilgub 2017 mendatang.

Nazaruddin memprediksi, jika Ahok kembali menjabat sebagai Gubernur DKI, dipastikan masa depan Jakarta akan menjadi seperti Singapura.

"Jakarta juga akan menjadi kota mahal seperti Singapura sehingga tidak mungkin didiami oleh orang-orang dengan penghasilan pas-pasan apalagi berpenghasilan rendah," cuit mantan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) itu melalui akun twitternya, @nazarsjamsuddin, Ahad dini hari (17/01/2016).

"Sayangnya sebagian besar dari mereka adalah kaum pribumi, termasuk pegawai negeri. Maka akan terjadi pergeseran warga, yaitu kaum pribumi ke pinggiran kota seperti Bekasi dan Depok (terutama Citayam dan Bojonggede).

Ujung-ujungnya nanti, mereka-mereka yang tidak sanggup lagi bayar PBB yang melangit itu akan terpaksa menjual rumah mereka dan keluar dari Jakarta. Dan itu termasuk saudara-saudara kita orang Betawi asli, dan Betawi-betawi non-kultural seperti kita-kita ini," lanjutnya.

Ujungnya, bila pribumi tersingkirkan dari Ibukota, maka politik akan dikuasai pula oleh golongan Cina yang sudah menguasai ibukota.

"Apabila perkembangan seperti ini terjadi juga di kota-kota besar kita lainnya, maka politik negeri ini akan dikuasai non-pribumi. Saat Indonesia sudah dikuasai Cina, presiden kita nanti tidak perlu segan-segan lagi memakai nama Cina. Dan Ahok tidak perlu lagi bernama Basuki." pungkasnya. (fn)

*Dari berbagai sumber

Tags

Shares ShareTweet
advertisement iklan

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.

Editor Picks