Load more

Pemerintah Kewalahan Blokir Masuknya Serbuan Aplikasi LGBT ke Indonesia

Shares ShareTweet
Meningkatnya kelompok pencinta sesama jenis atau (LGBT) di Indonesia salah satunya dipicu semakin meningkatnya serbuan aplikasi gay dan LGBT memasuki Indonesia. (Foto: metrotvnews.com)
"Blued dari 2016 sudah diblok terus dia pindah DNS lagi. Kemudian tahun 2017, kita blokir lagi. Dia pun pindah DNS lagi. Makanya, sekarang pindah lagi DNS tetapi kita sudah minta blok lagi,"
JAKARTA -- Meningkatnya kelompok penyuka sesama jenis atau kini akrab disebut LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual, Transgender), semakin meresahkan masyarakat. Sejumlah kasus kejahatan asusila diketahui dipicu oleh penganut LGBT. 

Di dunia maya bahkan aplikasi dan situs LGBT semakin banyak dan semakin mudah ditemukan maupun diakses, yang menimbulkan kekhawatiran masyarakat.

Dari hasil penelusuran dan pengaduan masyarakat sejak awal Januari lalu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah menemukan sedikitnya 169 situs LGBT yang bermuatan asusila, dan dapat diakses oleh semua usia.

Salah satu situs LGBT yang saat ini masih bisa diakses adalah aplikasi Blued. Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara, mengklaim telah memblokir Situs LGBT Blued, sejak tahun 2016. 


Tetapi, mereka selalu memindahkan Domain Name System (DNS), sehingga masih terus bisa diakses. Tak hanya memblokir DNS saja, Menkominfo menyatakan sudah melaporkan aplikasi yang berbau LGBT lainnya ke Google untuk diblokir.

Namun, walau sudah diblokir, aplikasi gay Blued dan sejumlah aplikasi gay lainnya, diketahui ternyata masih bisa diakses dengan mudah.

"Blued dari 2016 sudah diblok terus dia pindah DNS lagi. Kemudian tahun 2017, kita blokir lagi. Dia pun pindah DNS lagi. Makanya, sekarang pindah lagi DNS tetapi kita sudah minta blok lagi," katanya, Kamis (18/1).

Aplikasi gay, Blued. (Foto: istimewa)
Dalam siaran pers, dikutip dari Merdeka.com, sejak 28 September 2016 Kemkominfo telah memblokir 3 DNS dari 3 Aplikasi LGBT. Kemudian pada 12 Oktober 2017, Kemkominfo menyatakan telah memblokir 5 DNS dari Aplikasi Blued juga telah dilakukan pemblokiran. 

Kemenfominfo mengaku sampai saat ini tidak pernah melakukan normalisasi maupun pembiaran terhadap aplikasi Blued dan aplikasi serupa lainnya.

"Pada 15 Januari 2018, kami telah melakukan beberapa tindakan, yakni mengirimkan permintaan kepada Google untuk melakukan takedown (penghentian) 73 aplikasi berkenaan dengan LGBT dari Google Play Store, melakukan pemblokiran 15 DNS dari 15 Aplikasi LGBT yang ada pada Google Play Store, dan mengajukan kepada Facebook terhadap 1 grup LGBT yang meresahkan masyarakat untuk dilakukan suspend," ujar Plt Kepala Humas Kemkominfo, Noor Izza, Rabu (17/1).

Blued merupakan aplikasi asal Blue City Holdings, China, buatan pria bernama Geng Le. Aplikasi ini tersedia untuk iPhone dan Android. Jejaring sosial ini pernah mendapat pendanaan US$4,6 juta (Rp60,4 triliun) dari sejumlah investor yang tidak disebutkan namanya.

Mengutip situs resminya, blued.cn, Senin 15 Januari 2018, perusahaan teknologi ini diklaim sebagai perusahaan yang menyediakan sarananya untuk komunitas LGBT. Aplikasi ini pertama kali diluncurkan pada 2012, dan telah digunakan sebanyak 27 juta pengguna dari seluruh dunia.

Pengguna aplikasi Blued dapat mencari teman kencan dan berkomunikasi langsung. Selain itu terdapat fitur memposting foto serta memberikan komentar ke akun lain, hingga live streaming, layaknya fitur media sosial lain.


Selain Blued, terdapat sejumlah situs dan aplikasi gay lainnya yang telah memasuki Indonesia. Nama-nama aplikasi gay paling terkenal tersebut diantaranya seperti; GROWLr, Hornet, BoyAhoy, Grindr, Scruff, Gaydar dan Moovz.
Aplikasi gay, Grindr. Salah satu aplikasi gay yang memiliki jumlah pengguna terbesar di dunia, termasuk di Indonesia. (Foto: istimewa)

Sebelumnya, aplikasi Blued ramai diperbincangkan masyarakat setelah, Satuan Reserse Kriminal Polres Cianjur melakukan penangkapan terhadap lima pelaku pesta seks sesama jenis di wilayah Cipanas, Puncak, Cianjur, Jawa Barat, Minggu, 14 Januari 2018.

Menurut salah seorang pelaku, perkenalan dengan sesama gay ini melalui aplikasi Blued. Menggunakan aplikasi Blued, mereka membuat janji bertemu di sebuah vila di wilayah Cipanas, untuk melakukan pesta seks sesama jenis. 


Dalam aplikasi tersebut, didapati sebanyak 200 orang gay di wilayah Cianjur. Dari lima pelaku, seorang di antaranya masih berstatus pelajar. (fn)

Tags

Shares ShareTweet
advertisement iklan

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.

Editor Picks