Load more

Malaysia Diam-diam Klaim Tarian Poco-Poco

Shares ShareTweet
Rakyat Indonesia melakukan unjuk rasa mengecam Malaysia yang dianggap sering mengklaim dan mencuri budaya asli Indonesia. (Foto: istimewa)
Tari Poco Poco bahkan menular masuk ke Istana Malaysia, dan digandrungi pihak Kerajaan Malaysia. "Sehingga, pihak Istana saya dengar setiap malam memanggil guru tarian Poco Poco,"
KUALA LUMPUR -- Sejak Kerajaan Malaysia menyatakan mengharamkan tarian Poco-Poco asal Indonesia, rakyat Indonesia sempat dibuat tenang dengan kemungkinan Malaysia akan kembali mengklaim tarian tradisional Sulawesi Utara itu sebagai budaya asli mereka. 

Namun, ketenangan itu sepertinya harus segera ditinggalkan, pasalnya Malaysia diam-diam mulai memakai dan menamakan Tari Poco-Poco sebagai tarian asli Malaysia.

Seperti halnya yang dilakukan Jeffri Ramli (35) seorang warga Malaysia yang menjadi salah satu peserta dalam acara The Voice UK di Inggris. Saat selesai menyanyikan lagu pilihannya dalam ajang pencarian bakat itu, dia ditanya oleh salah satu juri, Will.i.am, tentang tarian tradisional Malaysia.

"Apakah Anda tahu tarian tradisional Malaysia? tanya Will.i.am kepada Jeffri. "Ya, saya bisa," jawab dia. Jeffri lantas memperagakan gerakan, menggeser kaki, menggoyangkan pinggul dan tangan. "Seperti ini?" tanya Jefri. "Ya seperti itu," kata Will.i.am.

Lantas Will.i.am memperagakan tarian yang dimaksud. Dan Jefri segera paham. "Oh itu saya kira Poco-Poco," kata Jeffri sambil memperagakan Poco-Poco. 


Situs berita online Malaysia, astroawani sempat memberitakan keberhasilan Jeffri memikat juri dengan menggunakan tarian Poco-Poco pada 22 Februari 2016 lalu.

Warga Malaysia yang tinggal di Newcastle itu semula menyanyikan lagu "Valerie" yang dipopulerkan oleh Amy Winehouse. Namun tak membuat para juri puas. Tapi ketika Jefri memperagakan Tari Poco-Poco, para juri langsung antusias dan bahkan mampu menarik juri lainnya untuk ikut menari.
Para peserta delegasi melakukan Tari Poco-Poco pada acara pertemuan tingkat ASEAN di Kuala Lumpur, Malaysia. Sempat melarang, kini Malaysia perlahan-lahan mulai mengklaim Tari Poco-Poco sebagai bagian dari budaya mereka. (Foto: istimewa)
Bahkan sang juri, Will.i.am pun kemudian berkata dengan bersemangat kepada juri lainnya. "Itu tarian legendaris." Video Tari Poco-Poco yang dianggap sebagai tarian asal Malaysia itu tersebar di dunia maya. Dan kini menjadi ramai dibincangkan oleh pengguna media sosial di Malaysia.

MPR: Waspada Malaysia Akan Mengklaim Tari Poco-Poco

Kekhawatiran akan kemungkinan diklaimnya Tari Poco-Poco oleh Malaysia sudah lama didengungkan oleh sejumlah kalangan. Bahkan Wakil Ketua MPR Melani Leimena Suharli mengatakan Malaysia selama ini dinilai menggandrungi Tari Poco Poco asal Sulawesi Utara itu.

"Saya khawatir itu juga nanti diklaim Malaysia," kata Wakil Ketua MPR Melani Leimena Suharli, di Gedung DPR, Senin (25/6/12).

Ia mengatakan, Tari Poco Poco bahkan menular masuk ke Istana Malaysia, dan digandrungi pihak Kerajaan Malaysia. "Sehingga, pihak Istana saya dengar setiap malam memanggil guru tarian Poco Poco," ungkap Melani.

Karena itu, lanjutnya, Indonesia jangan lengah dan harus senantiasa memelihara budaya dan seni tradisional, dengan selalu mendaftarkannya ke UNESCO. "Kita jangan lengah. Jangan sampai Poco Poco juga diklaim. Apalagi, mereka sangat gandrung sama Poco Poco," tutur Melani.

Sebelum Poco-Poco diklaim oleh Malaysia, Melani berharap pemerintah Indonesia segera mendaftarkan semua kekayaan budaya Indonesia ke The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco).

“Berlajar pada klaim yang dilakukan Malaysia atas batik. Batik sempat terlebih dulu diklaim mereka, namun ternyata Unesco percaya bahwa batik adalah kebudayaan Indonesia,” jelas dia.
Jeffri Ramli, seorang warga Malaysia memperagakan Tari Poco-Poco yang dianggap sebagai tarian asal Malaysia, pada sebuah ajang pencarian bakat di Inggris. (Foto: Facebook).
Menurut Melani, agar kasus ini tak berulang di masa berikutnya, pemerintah harus segera membentuk semacam "rumah" yang bertugas mendata dengan lengkap jenis-jenis kebudayaan yang ada di Indonesia.

Pemerintah juga diminta untuk menyokong penuh pelestarian kebudayaan ini. Merujuk pada Malaysia, mereka memberi dana sedemikian rupa ke pihak tertentu agar mereka bisa mengklaim kebudayaan yang mereka inginkan.


Tari Poco-Poco 100 Persen Asli Indonesia

Tari Poco-poco di Indonesia mulai populer di awal tahun 2000-an. Tarian ini diiringi oleh lagu yang berasal dari Maluku yang bernama Poco-Poco juga. Gerakan tarian Poco-Poco diantaranya mundur ke belakang satu dua langkah dan maju ke depan satu dua langkah sembari badan berputar di tempat sebanyak 360 derajat.

Poco-poco mulai memasyarakat saat TVRI Jakarta menyiarkan program 'Dansa Yo Dansa'. Sebelumnya, poco-poco hanya dikenal di lingkungan TNI/ POLRI sebagai senam irama.

Poco-poco jenis tarian baru yang dibuat untuk dijadikan senam irama dengan mengambil gerakan tarian-tarian daerah di Indonesia. Oleh karena itu di dalam gerakannya, juga terselip ada gerakan seperti melempar lembing, melepas panah dan lain sebagainya.

Lagu Poco-Poco sendiri diciptakan oleh Yopie Latul, seorang seniman asal Maluku yang hingga saat ini masih hidup. Walau awalnya lagu tersebut dibuat sebagai musik hiburan semata, namun dalam kemasan kaset/ CD poco-poco juga disertai dengan gambar gerakan senam. Hal ini mengingat rakyat Indonesia sangat menyukai irama lagu Poco-Poco dan gerakan Poco-Poco dijadikan sebagai sebuah gerakan senam yang menyehatkan.

Malaysia, Negara Pencuri Budaya

Tindakan mengklaim atau mencuri budaya asli Indonesia bukan sekali ini saja dilakukan Malaysia. Sedikitnya sudah tujuh kali Malaysia mencoba mengklaim kebudayaan Indonesia sejak 2007.
Yopie Latul, seniman asal Maluku pencipta lagu Poco-Poco. (Foto: Istimewa)
Mulai dari tari Reog Ponorogo, lagu Rasa Sayange, tari Pendet, Batik, Angklung, Keris, tari Zapin, Rendang, Gamelan. Bahkan Cendol pun hendak mereka akui dengan mencatatkan dalam akta budaya Malaysia.

Kondisi ironis terjadi khusus untuk Tari Poco-Poco. Yaitu Pada awalnya Malaysia melarang adanya Tari Poco-Poco di negara itu, karena dianggap mengandung praktek dan elemen ritual Kristen.
Bahkan Harussani Zakaria, seorang pejabat Islam negara bagian Perak Malaysia menyebut tarian poco-poco melanggar hukum Islam. Zakaria mengatakan, menurut riset yang dilakukan timnya, tarian Poco-Poco berasal dari Jamaika dan banyak ritual Kristen dalam gerakannya seperti membuat tanda salib.
 

Selain itu alasan lain yang dikemukakannya, tarian juga banyak ditarikan di kawasan Filipina dan Indonesia yang mayoritas Kristen, jadi tarian sarat pengaruh Kristen, yang bertentangan dengan Islam. Hal ini bertolak belakang dengan di Indonesia, dimana Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengatakan tidak mempermasalahkan Tari Poco-Poco, karena hanya bagian dari sebuah budaya.
 

Namun, walau Malaysia menyatakan melarang, saat ini Tari Poco-Poco justru sangat digandrungi oleh rakyat Malaysia. Bahkan, di Malaysia sering diadakan perlombaan Tari Poco-Poco yang dilakukan berbagai tingkatan masyarakatnya. 

Satu hal yang tidak bisa dibantah rakyat Malaysia adalah, tarian ini sering mereka dilakukan, karena dianggap cara santai untuk menyehatkan badan. (fg)

Tags

Shares ShareTweet
advertisement iklan

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.

Editor Picks