Load more

Inilah Penyebab Prostitusi Pelajar Laris Manis di Jepang

Shares ShareTweet
Anak-anak gadis yang masih berstatus pelajar SMP atau SMA di Jepang menjadi komoditi bisnis prostitusi paling dicari oleh para lelaki hidung belang di negara itu. (Foto: istimewa)
"Saya bosan pergi ke bar yang itu-itu lagi. Melihat pelayannya seorang wanita tua. Tapi para anak gadis ini makin kelihatan imut dan menarik jika mereka mengenakan seragam sekolah,"
TOKYO -- Dikenal sebagai negara kampiun teknologi dan kemajuan, negara Jepang ternyata memikili sisi kelam lain yang di sebagian negara di dunia akan dianggap sebagai kejahatan luar biasa. Prostitusi dan pelacuran anak-anak, sebuah perbuatan yang umumnya paling dikecam di dunia, di Jepang justru hampir seperti sebuah budaya.

Memang, sudah menjadi rahasia umum jika Jepang, merupakan surga dari berbagai jenis fantasi sex, untuk memuaskan nafsu dari para hidung belang. Di negara ini, terdapat berbagai macam klub malam dengan berbagai penawaran yang menggiurkan bagi para penikmat nafsu dunia.

Mulai dari sekedar layanan teman minum dan karaoke, hingga hal-hal yang bisa di bilang cukup nyeleneh, seperti SoapLand (Mandi Bersama) dan CosplayBox (Memilih gadis sesuai kostum yang dinginkan).

Bahkan ada sebuah layanan lain yang biasa disebut dengan Joshi-kosei osanpo (JK), yang berarti layanan berkencan dengan Gadis SMA. Layanan yang awalnya hanyalah pekerjaan sambilan dengan membagikan brosur oleh siswi SMA sambil kadang menemani ngobrol dan jalan-jalan.

Belakangan mulai berkembang menjadi sarana prostitusi anak 'terselubung' dengan berkedok Kafe yang menyediakan jasa ngobrol, pijat hingga berjalan-jalan di sekitar wilayah itu dengan seorang siswi SMA.

Bagi wisatawan yang baru pertama berjunjung ke negeri matahari terbit itu, sangat mudah untuk mengetahui para anak-anak yang 'bisa dipakai' tersebut. Biasanya mereka sosok gadis muda, menarik dengan seragam sekolah khas Jepang. Rok pendek dan kaos kaki putih selutut.

Sepintas tak ada beda dengan anak sekolah lainnya. Tapi beberapa di antaranya tampak digandeng om-om berusia 40-50 tahun. Inilah potret prostitusi Joshi Kousei, yang berarti siswi SMA.

Seorang anak gadis yang masih berstatus pelajar, menjadi pelayan di sebuah kafe yang juga melayani urusan seks. (Foto: istimewa)
Tarif untuk kencan dengan anak-anak SMA di kafe-kafe JK Tokyo rata-rata 3.000 Yen untuk 30 menit dan 5.000 Yen untuk 60 menit. Atau sekitar Rp 400.000 hingga Rp 600.000 untuk 60 menit.

Mereka akan menemani tamu minum, mengobrol, dan juga meramal lewat horoskop atau kartu tarot. Kadang para wanita ini mau diajak jalan-jalan beberapa blok.

Dengan harga yang murah tersebut, kini para anak gadis yang masih berstatus sekolah menjadi paling dicari oleh para pria hidung belang di negara itu.

"Saya bosan pergi ke bar yang itu-itu lagi. Melihat pelayannya seorang wanita tua. Tapi para anak gadis ini makin kelihatan imut dan menarik jika mereka mengenakan seragam sekolah," kata seorang pelanggan berusia 40 tahun, seperti ditulis National Post.

Mio (17) adalah salah satu contoh pelaku Joshi Kousei. Dia kini duduk di kelas dua SMA. Sudah setahun dia terjun ke bisnis ini. Pertama kali dia berhubungan intim di ruang karaoke dengan seorang pria dewasa dan dibayar sekitar 3.000 Yen. Sejak itu Mio, menebar layanan kencan lewat pesan di jejaring sosial jika tak main band di akhir pekan.

Pelanggannya mulai dari anak kuliahan, hingga pria berusia 50 tahun yang seumur dengan ayahnya sendiri. Dia tak merasa menyesal melakukan ini. Terjun ke dunia prostitusi adalah bentuk pemberontakan Mio yang tak bahagia di rumah. "Ayah dan ibuku selalu bertengkar. Aku sangat membenci mereka," kata dia.

Pelacuran Anak-anak Menjadi Industri
Industri prostitusi dengan menjadikan anak-anak sebagai komoditi seks menjadi usaha paling instan untuk mengumpulkan pundi-pundi uang di Jepang. Walau aturan seks terhadap anak sangat dilarang oleh undang-undang pemerintah setempat, nyatanya hampir di setiap kota-kota besar di Jepang dapat ditemui lokasi-lokasi pelacuran yang mempekerjakan anak-anak usia sekolah.

Anak-anak pelajar SMP dan SMA dari dengan latar belakang broken home, sangat mudah dibujuk dan dipengaruhi untuk masuk dalam dunia prostitusi. Sebagian pelajar tersebut bahkan menjadikannya sebagai tempat pelampiasan kemarahan terhadap kondisi hidup yang mereka alami. (Foto: istimewa)
Misalnya di kota Tokyo, tepatnya di distrik Akihabara, sering ditemui puluhan siswi SMA yang sedang membagikan selebaran bagi orang yang lewat. Para remaja ini berusaha untuk menarik orang-orang yang lewat agar mampir ke tempat yang mereka promosikan.

Jika seseorang berminat maka Ia bisa masuk dan memilih dengan siswi mana dirinya ingin mengobrol, diramal ataupun pijat, namun tak jarang juga hal yang lebih.

Wartawan asal Brooklyn, bernama Simon Ostrovsky, dalam film dokumenter pendeknya yang berjudul "Girl For Sale," pernah melakukan investigasi ke sejumlah lokasi di kota Tokyo.

Untuk mengetahui lebih dalam tentang Josei-Kosei, Simon, masuk kedalam salah satu Kafe yang menyediakan jasa Josei-Kosei (pelacuran anak SMA).

Di dalam kafe, setelah membayar sejumlah uang untuk memboking seorang anak gadis usia sekolah, akhirnya Simon berhasil menemukan seorang Josie-Kosei yang bersedia untuk menceritakan sisi gelap dari profesi ini dengan syarat identitasnya dirahasiakan.

Gadis yang mengaku telah menjadi JK sejak berusia 16 tahun ini, mengatakan kalau pilihanya menjadi JK adalah karena Ibunya mengalami Sakit Mental dan kondisi keluarganya tak lagi akur. Dia mengaku merasa tak tak punya tempat sampai dirinya datang ke Akihabara.

Gadis itu mengaku tawaran yang biasa datang padanya mulai dari sekedar menyentuh payudara hingga berhubungan Sex. Si gadis itu mengatakan, tak menolak tawaran seks jika harganya dinilai cocok

Sedangkan di Nagoya, dapat menemukan sedikitnya 300 toko kenyamanan (pijat, seks) bahkan dengan kamar khusus (private room). Di kota itu banyak toko seks yang berani membuat papan reklame besar bahkan dengan lampu neon warna warni sehingga menarik dilihat banyak orang.

Seorang anak gadis dengan masih memakai baju seragam sekolah, menawarkan jasa seks di sebuah jalan di kota Tokyo. (Foto: istimewa)
Sementara di daerah lampu merah Nishi Kawaguchi di perfektur Saitama juga banyak toko yang menawarkan permainan penuh untuk seks. Tentu dengan harga yang lebih mahal. Namun toko-toko demikian juga menarik dengan nama misalnya Campus Pub, Pink Salon, dan sebagainya.

Begitu sulitnya kondisi ekonomi yang masih membayangi Jepang, banyak tempat pelacuran tersebut yang melakukan perang harga. Bahkan, harga sekali "main" sudah bisa dengan biaya 10.000 yen. Biaya ini tidak pernah terjadi 15 tahun yang lalu.

Sebuah majalah mingguan Jepang SPA edisi 18 Maret 2014 membuat survei kepada dunia pelacuran di beberapa kota besar Jepang seperti Osaka, Tokyo dan Nagoya.

Hasilnya antara lain menyebutkan masih sulitnya dunia pelacuran sejalan dengan perekonomian Jepang yang belum segar hingga saat ini.

Menghadapi kondisi ini, mulai mencari solusi dan begitu mengetahui bahwa membayangkan siswi berseragam sekolah menjadi fantasi seks liar tertinggi pria-pria Jepang, para pengusaha mencium peluang ini.

Di beberapa kafe dan bar mereka menyediakan pelayan wanita belia berseragam sekolah. Sebagian benar-benar anak sekolah, tapi ada juga anak sekolah KW, wanita yang hanya mengenakan seragam. Tapi yang jelas kafe dan bar Joshi Kousei atau JK ini laris manis.

Jake Adelstein, seorang wartawan asal Amerika yang sudah lama menetap di Jepang menuturkan, budaya Josei-Kosei yang dimulai sejak tahun 1990an, sudah jauh berbeda dengan yang ada sekarang.

Dulu Josei-Kosei hanya memberikan layanan jalan-jalan dan ngobrol pada para pelangganya. Namun para konsumen yang kebanyakan sudah berusia 40an ke atas ini menginginkan sesuatu yang lebih dan sesuatu itu biasanya berkonotasi pada urusan seks.

Sebuah tempat pelacuran yang menawarkan jasa seks anak-anak pelajar di Jepang. (Foto: istimewa)
Kerelaan pria-pria paruh baya ini untuk membayar dengan harga berapapun ini, telah memicu beberapa individu di Akihabara untuk menjadikan Josei-Kosei sebagai ladang bisnis dengan merekrut siswi-siswi SMA untuk bekerja pada mereka.

Dan menurut Jake akan sulit untuk mengatasi masalah ini, karena masyaralat Jepang merupakan kaum yang sangat haus akan fantasi sex diantara negara-negara lainya.

Pakar Sosiologi dan Studi Gender dari Universitas Osaka Kazue Muta juga menyoroti fenomena ini. Mengapa gadis berseragam menjadi fenomena dan fantasi pria. Dan kesimpulannya lagi-lagi berujung pada masalah ekonomi.

Para pengusaha biasanya mengelak jika dia dituduh melakukan eksploitasi. Menurutnya para gadis datang dan bekerja atas keinginan mereka sendiri, dan selama permintaan dari konsumen masih tinggi, bisnis ini akan terus berlanjut.

Buktinya, Saat dia membuka lowongan untuk pekerjaan di bawah 18 tahun, pelamarnya membludak. "Para gadis itu sendiri yang memilih berada di bisnis ini," kata seorang pengusaha JK.

"Masyarakat Jepang hidup dalam budaya patriaki yang tinggi. Mereka menilai gadis muda yang terlihat polos itu menarik dan lebih memikat. Jika ada dua gadis muda yang satu berseragam, yang satu berpakaian lain, maka yang dipilih pasti yang mengenakan seragam sekolah," kata Profesor Muta.

Kebrutalan Dunia Pelacuran Anak-anak dan Lemahnya Hukum

Di Jepang seorang siswi SMA yang masih terlihat polos, seolah memiliki daya tarik dan tempat tersendiri dalam tatanan masyarakat.

Dengan rok pendek yang khas dan tingkah mereka yang lucu, membuat gadis-gadis ini menjadi obyek fantasi favorit dalam berbagai bidang mulai dari kartun, komik, Idol seperti AKB48, hingga Joshi-kosei.

Selain dijadikan sebagai karakter dalam komik maupun Idol, siapapun benar-benar bisa membeli siswi-siswi SMA ini secara harafiah. Dan demi meraih keuntungan yang besar beberapa orang tak bertanggung jawab telah merubah tradisi Josie-Kosei, menjadi ajang prostitusi anak di bawah umur.

Foto yang menampilkan wajah-wajah pelajar putri yang dititipkan oleh mereka ke kafe-kafe Joshi-Kosei sebagai iklan penawaran layanan seks kepada para lelaki hidung belang. (Foto: istimewa)
Yumeno Nito, seorang pekerja sosial mengungkapkan fakta lain dari bisnis JK yang jauh lebih mengerikan. Wanita yang mengaku telah menyelamatkan lebih dari 100 gadis SMA dari perdagangan manusia ini, selalu meluangkan waktunya setiap hari untuk berparoli di sekitar Akihabara sebelum jam 22.30 untuk mencari gadis muda yang tak punya tempat untuk pulang.

Yumeno akan membawa mereka ke rumahnya dan memberi gadis-gadis ini tempat menginap dan juga makan. Menurut Yumeno, sebagian dari Josei-Kosei memang mendapatkan banyak uang dari profesi mereka ini, namun tak jarang juga yang akhirnya hanya dieksploitasi tanpa mendapat uang sedikitpun.

Yang lebih parah lagi, saat keluarga dan teman-teman mereka tahu, gadis-gadis malang ini biasanya justru akan menjadi pihak yang disalahkan, karena terjebak menjadi Josei-Kosei, dengan stigma negatif ini pula, para gadis ini akhirnya terisolasi dari lingkunganya.

Dan karena budaya masyarakat Jepang yang menjunjung tinggi rasa malu. Kebanyakan dari gadis-gadis ini akhirnya memilih untuk menggelandang dan kelaparan daripada harus meminta bantuan pada Keluarga ataupun Temannya. Tak jarang pula para siswi SMA ini memilih untuk bunuh diri karena merasa tak punya tempat lagi untuk bernaung.

Upaya untuk menarik para gadis dari bisnis eksploitasi tersebut bukannya tak ada. Jun Tachibana salah seorang penggerak LSM Bond Project, yang mencoba berbicara dengan para gadis yang kelihatan punya masalah di jalan. Menurutnya, bukan perkara mudah untuk menarik mereka dari bisnis ini.

Para gadis ini rata-rata kesepian di rumah. Ada juga yang mengalami kekerasan seksual di rumah. "Mereka juga terdesak kebutuhan ekonomi karena berasal dari keluarga miskin, kata Jun Tachibana.

Pada tahun 2013 setelah mendapat sorotan dari dunia, akibat tradisi Josei-Kosei yang sudah menjurus pada perdagangan manusia. Pemerintah Jepang akhirnya mulai mengambil tindakan dengan memperingatkan bisnis yang menggunakan jasa Josei-Kosei dan melakukan penggrebekan terhadap bisnis JK yang di duga memperdagangkan manusia.

Namun banyak yang menduga ini hanyalah sandiwara publik, karena hingga kini, masih terlihat banyak bisnis JK yang buka dengan bebas, padahal lokasinya sangat dekat dengan pos polisi.

Para anak gadis dengan masih menggunakan pakaian sekolah, sering menggaet pelanggan di pusat-pusat keramaian. Sebagian besar para anak gadis tersebut berasal dari latar belakang keluarga bermasalah. (Foto: istimewa)
Tahun 2015 lalu, setelah Lembaga PBB menginvestigasi penjualan anak-anak di bawah umur dalam bisnis ini, Jepang mulai mengeluarkan beberapa aturan. Aichi adalah prefektur yang pertama kali melarang bisnis JK.

Mereka juga melarang anak sekolah bekerja part time di lokasi pijat, pelayan berbusana seronok dan berkencan dengan pria. Tahun 2017 lalu, Polisi Jepang juga mulai memeriksa para pelaku usaha JK di Tokyo.

Tahun 2016 pemerintah Jepang mengeluarkan hasil penelitian yang mengungkapkan tingkat kekerasan, termasuk kekerasan fisik dan seksual, terhadap anak, mencatat menjadi yang tertinggi sejak dilakukan pencatatan di Negeri Matahari Terbit itu.

Pada pertengahan 2016, asosiasi yang mewadahi industri pornografi di Jepang meminta maaf setelah muncul tuduhan bahwa sejumlah perempuan dipaksa melakukan adegan seks tanpa persetujuan mereka. Anak-anak di bawah umur dilaporkan menjadi sasaran usaha pornografi itu.

National Police Agency (NPA) atau Kepolisian nasional Jepang mengatakan, pihaknya bertekad untuk menyelidiki praktik prostitusi anak atau 'JK businesses'. Aparat kepolisian Jepang mengakui, meningkatnya prostitusi anak-anak di negara itu disebabkan sebagian besar tak terjamah hukum resmi, karena mereka mengubah pola operasi secara terus menerus.

Selain itu, para pengusaha prostitusi anak-anak tersebut biasanya juga terkait dengan kelompok kriminal Yakuza, yang selalu memberikan perlindungan maupun informasi jika ada pergerakan dari aparat keamanan setempat.

Namun itu semua tidak gratis. Atas bantuan ini, para germo harus meningkatkan jumlah "penjualan" mereka dan memberikan uang proteksi (mikajimeryo) kepada para anggota Yakuza tersebut. (fn)

Tags

Shares ShareTweet
advertisement iklan

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.

Editor Picks