Load more

Inilah Penyebab Citarum Dapat Predikat Sungai Terkotor di Dunia

Shares ShareTweet
Dua anak tampak bermain di Sungai Citarum di Desa Belaeendah, Kabupaten Bandung beberapa waktu lalu. Sungai Citarum mendapat predikat sebagai sungai terkotor dunia. Namun ironisnya, ada lebih dari 30 juta orang bergantung hidupnya pada sungai, yang kondisinya semakin rusak dan memprihatinkan tersebut. (Foto: Donny Iqbal / Mongabay Indonesia)
“Beberapa pabrik di sana memiliki sistem pembuangan limbah. Namun, itu tidak berjalan dengan baik karena dijadikan formalitas semata,”
BANDUNG -- Sungai Citarum memiliki sejarah panjang seiring perkembangan peradaban di Tatar Sunda jauh pada abad ke-4 di era Kerajaan Taruma. Membentang 300km dari hulu sungai melewati berbagai wilayah hingga muara di utara pulau Jawa, Citarum seakan sudah menjadi legenda yang mengiringi sejarah bangsa Indonesia hingga kini.

Di era modern Sungai Citarum menjadi sumber pembangkit listrik tenaga air untuk memutar turbin listrik di dua bendungan besar, yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik di pulau Jawa dan Bali. Sungai Citarum juga mengairi 400.000 hektar sawah.

Bank Dunia menyatakan Citarum sebagai sungai terkotor di dunia, satu dekade yang lalu. Hingga kini, julukan tersebut masih digunakan untuk menggambarkan Citarum.

Julukan ini digunakan oleh media dan pemerhati lingkungan untuk mendeskripsikan Citarum. Tingkat limbah bervariasi tergantung pada bagaimana polusi diukur dalam setahun. Namun, Citarum sangat berbahaya mengikuti standar mana pun.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sungai tersebut mengandung bahan kimia beracun yang mengkhawatirkan. Seribu kali lipat lebih tinggi dari batas air minum aman yang ditetapkan Amerika Serikat.

Pada 1980an, zona industri baru bermunculan di sekitar kota kecil Majalaya, Bandung. Lalu semua berubah dengan cepat di Citarum. Sekitar 2000 pabrik tekstil menyediakan lapangan kerja yang dibutuhkan warga. Namun, harga yang dibayar sangat mahal: sekitar 280 ton limbah industri dibuang ke sungai setiap hari.

Selain itu, sekitar 100 ton tinja atau kotoran manusia saban harinya mencemari Sungai Citarum, yang dibuang ke aliran sungai ini. Lebih buruknya, banyak warga yang juga membuang sampah rumah tangga ke Citarum.

Air dari hasil olahan pabrik industri yang mengandung zat kimia berbahaya, mencemari sungai Citarum. (Foto: istimewa)
"Itu sudah berdasarkan penghitungan berapa jumlah penduduk, berapa masyarakat yang tidak menggunakan fasilitas MCK (mandi cuci kakus). Jadi yang tidak menggunakan MCK tadi berapa puluh ribu orang sudah dihitung. Hasilnya sehari 100 ton tinja per harinya, itu manusia saja," kata Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, Minggu (22/3).

Selain limbah rumahtangga peternakan dan pertanian, limbah sungai 'disumbang' oleh 3200 lebih pabrik yang berdiri di sepanjang aliran sungai dan anak sungai Citarum. 


Berbagai jenis polutan kimiawi seperti Merkuri, Coliform, Besi, Mangan, Timbal, Sulfur, dan Klor pun ikut dibuang ke Citarum. Menurut Dinas Lingkungan Hidup setempat 90 persen pabrik tersebut tidak memiliki instalasi pengolah limbah.

Pabrik biasanya langsung membuang limbah dengan pewarna kimia yang digunakan dalam tekstil ke sungai, sehingga menimbulkan bau busuk yang luar biasa.

“Beberapa pabrik di sana memiliki sistem pembuangan limbah. Namun, itu tidak berjalan dengan baik karena dijadikan formalitas semata,” kata Deni Riswandani, dari komunitas pemerhati lingkungan, Elingan.

Banyak warga di sekitar Citarum, mengalami masalah kesehatan. Penduduk lokal menderita penyakit kulit, mulai dari kudis hingga infeksi kulit. Juga gangguan pernapasan akibat menghirup asap pabrik.

“Jumlah orang yang pergi ke klinik ke kesehatan sangat tinggi. Kami selalu melaporkan masalah ini ke pemerintah, namun tidak pernah ada solusi,” kata Deni.

Ia dan para aktivis lain yang sudah frustasi telah memblokir beberapa pipa limbah dengan batu dan beton. Namun, pabrik-pabrik selalu membuka sumbatan tersebut. Penduduk lokal berharap pemerintah pusat bisa mengatasi masalah secepat mungkin.

Ambisi Bombastis, Lemahnya Hukum dan Budaya yang Buruk

Berbagai upaya membersihkan sungai Citarum dari pencemaran (dan banjir) tidak membawa hasil. Presiden dan Gubernur sudah silih berganti, program revitalisasi berganti-ganti nama, namun tidak membawa hasil walau telah triliunan rupiah habis digunakan.

Seorang warga sedang mencari pasir di Sungai Citarum. (Adek Berry/nationalgeographic.co.id)
Padahal, menggunakan air tercemar ini sangat berisiko bagi 30 juta orang yang bergantung pada sungai Citarum untuk irigasi, mencuci, bahkan minum, termasuk 80 persen penduduk Jakarta. Kondisi sungai Citarum sudah benar-benar kronis dan darurat bencana.

Menghadapi kondisi ini, pemerintahah pusat menyatakan akan langsung turun tangan dengan target yang sangat ambisius dan terkesan bombastis, yakni ingin membuat air Citarum bisa diminum pada 2025, secara layak dan sehat.

Untuk mewujudkan ambisi ini, Peraturan Presiden (Perpres) untuk membentuk Satuan Tugas (Satgas) Sungai Citarum pun dikeluarkan, agar seluruh lembaga terkait berada dalam satu komando pemerintah pusat dalam proses revitalisasi sungai Citarum. Termasuk kepolisian dan TNI dalam menindak pabrik pembuang limbah.

Pemerintah pusat berjanji untuk bersikap keras pada pemilik bisnis yang mengabaikan aturan pembuangan limbah. Ancaman diberikan, pabrik-pabrik yang tidak menaati peraturan, izin usahanya akan dicabut.

Kamera CCTV akan dipasang di tepi sungai untuk mengawasi pelanggar yang membuang limbah pada dini hari. Di saat yang bersamaan, alat pengerukan akan digunakan untuk membersihkan sungai yang kotor.

“Kami tidak main-main sekarang. Kami akan melakukan pendekatan holistic dan optimis bisa membuat Citarum bersih kembali seperti 50 atau 60 tahun yang lalu,” kata Djoko Hartoyo, Kepala Biro Umum Kemenko Maritim.

Salah satu solusi untuk mengatasi persoalan pencemaran oleh kalangan industri, yaitu melalui pembangunan instalasi pengolahan limbah bersama. Untuk mewujudkan ini, Kementerian Lingkungan Hidup telah menggandeng pihak swasta untuk pembangunan serta pengelolannya.

Sedangkan untuk menangani kebiasaan masyarakat yang buang kotoran ke sungai Citarum, Pemprov Jabar juga terus menggenjot pembangunan MCK. Anggaran sanitasi tahun ini saja Rp 600 miliar digelontorkan untuk memperbaiki masalah klasik tersebut.

Seorang anak remaja di Sungai Citarum sedang memilah-milah sampah-sampah plastik untuk kembali dijual. (Foto: avaxnews.com)
Pemprov Jabar pun menghimbau masyarakat untuk sadar akan pencemaran sungai. Namun, meski fasilitas MCK sudah dibangun pemerintah, masih saja ada masyarakat yang tidak menggunakannya.

"Kebutuhan sanitasi banyak. Sekarang budget sanitasi Rp 600 miliar. MCK dibuat banyak, tapi memang masih saja ada yang buang ke sungai. Ini culture, ini edukasinya yang harus terus menerus dilakukan. Mungkin yang biasanya berendam, ini tiba-tiba nongkrong mungkin enggak enak," kata Wagub Jabar Deddy Mizwar.

Memang, persoalan Sungai Citarum juga, berkaitan erat dengan pendidikan dan ekonomi masyarakat yang diikuti pergeseran budaya. Budaya nyampah masyarapat yang berada di hulu, masuk ke Waduk Saguling yang diperkirakan sekitar 250.000 meter kubik per tahun. Hal yang dikhawatirkan menyebabkan pendangkalan serta mempercepat umur waduk.

“Di tempat tinggal kami tidak ada tempat pembuangan sampah (TPS). Kadang sampah menumpuk di pinggir jalan, sehingga buang sampah ke sungai dianggap lumrah,” tutur Usron (60), warga Kampung Jembatan, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Salah satu persoalan dalam melindungi kondisi sungai Citarum adalah karena lemahnya penegakan hukum. Memang, Penegakan hukum terhadap pihak yang mencemari Sungai Citarum selama ini dinilai masih tumpang tindih. Akibatnya para pelanggar hukum tak bisa dihukum secara maksimal.

Pangdam III Siliwangi, Mayjen TNI Doni Monardo mengatakan, keberhasilan program Citarum Harum, 50 persen akan ditentukan oleh penegakkan. Untuk itu, ia berharap perpres segera turun sehingga kerja Satgas Citarum akan lebih maksimal lagi.

Sebab, dengan adanya Perpres Satgas Sungai Citarum, maka penegakkan hukum terhadap pencemar sungai Citarum dilakukan Polri dan Kejaksaan.

Para warga yang tinggal disepanjang bantaran sungai Citarum, juga memanfaatkan air sungai tersebut untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mencuci, mandi, MCK dan bahkan untuk kebutuhan air minum. (Foto: istimewa)
"Dalam program rehabilitasi sungai ini mulai dari hulu hingga hilir akan berhasil jika penegakkan hukum maksimal. Sebab 50 persen keberhasil program ini ya di bidang hukum," ujar mantan Pangdam Patimura ini, seperti dilansir Republika.co.id, Senin (5/3).

Sungai Citarum seperti sebuah urat nadi kehidupan, faktanya hingga kini ada puluhan juta orang yang terhubung dan tergantung pada sungai yang kondisinya sangat mengenaskan ini. Akankah pemerintah bisa kembali menghidupkan ekosistem dan kebersihan sungai Citarum, kembali lagi hanya waktu yang bisa menjawab. (fg)

*Berbagai sumber

Tags

Shares ShareTweet
advertisement iklan

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.

Editor Picks