Load more

Inilah 10 Jenis Penyakit Demam Paling Berbahaya Pada Anak

Shares ShareTweet
Penyakit demam pada anak umumnya dipicu berbagai macam faktor, mulai dari kesehatan makanan, lingkungan, terpapar virus, kuman, bakteri atau bahkan faktor alergi. Diperlukan kewaspadaan dan pemahaman orang tua dalam membedakan penyakit tersebut, agar penanganan dapat diberikan secara cepat dan tepat. (Foto: M. Aldebaran Haydar Alpasha)
Bagi orang tua, melihat anak sakit adalah hal yang paling menyedihkan. Terutama orang tua yang memiliki bayi, melihat sang buah hati sakit, akan menimbulkan rasa panik yang berlebih dan terkadang justru akan membuat kita mengambil cara yang salah dalam menanganinya.

Salah satu penyakit yang sering dan akrab dialami bayi adalah penyakit panas atau demam. Tapi tidak semua kondisi panas tubuh yang dialami bayi bersifat berbahaya, apalagi harus langsung dibawa ke dokter untuk diperiksa.

Padahal seharusnya jangan terlalu cemas, karena sebenarnya demam terjadi karena tubuhnya sedang melawan virus yang menjangkiti, juga dapat membangun sistem imunnya.

Demam dapat disertai dengan gejala lainnya , salah satunya timbulnya bercak merah pada seluruh badan anak anda. Beberapa orang beranggapan apabila terjadi demam yang disertai dengan bercak merah merupakan penyakit campak. Betulkah timbulnya bercak merah disertai dengan demam pada anak anda merupakan campak?

Ada sejumlah penyakit yang biasanya berhubungan dengan demam atau bahkan dimulai maupun dipicu oleh kondisi demam. Sejumlah penyakit tersebut bisa ringan atau bahkan sangat berbahaya dan dapat mengancam keselamatan bayi. Berikut sejumlah penyakit tersebut:

1. Penyakit Roseola Infantum


Jenis penyakit ini paling sering ditemukan pada anak usia 6 bulan – 3 tahun. Gejala yang terjadi pada Roseola Infantum atau biasa juga dikenal sebagai Eksantema Subitum, mirip dengan gejala campak.

Bedanya terletak pada urut-urutan munculnya gejala. Jika pada campak demam diawali dengan demam yang tidak terlalu tinggi dan kemudian naik terus secara perlahan-lahan, pada eksantema subitum demam langsung diawali oleh demam tinggi mendadak.

Biasanya dimulai dengan gejala demam tinggi antara 38.8° sampai 40.5°C selama 3-7 hari. Demam ini juga tak jarang disertai dengan hilangnya nafsu makan, diare, batuk, serta ingusan.

Penyakit ini adalah suatu kelainan yang disebabkan oleh infeksi virus. Kelainan ini umum dialami oleh orang yang menderita alergi dengan riwayat kulit yang sangat sensitif.

Ruam baru muncul setelah demam turun, dan merupakan pertanda bahwa anak sudah memasuki fase penyembuhan. Ruam ini akan muncul pada batang tubuh terlebih dahulu (leher, dada dan punggung) baru kemudian menyebar ke wajah, tangan dan kaki.

Bentuk bintik yang menjadi gejala dari penyakit ini berbentuk seperti bunga mawar. Penyebarannya bisa di seluruh tubuh atau hanya pada bagian tertentu. Bila bercak tersebut ditekan akan terlihat bekas lingkaran seperti cincin, ia juga tidak berubah menjadi nanah atau berisi cairan serta tidak gatal.

Penyakit Roseola Infantum pada bayi. (Foto: istimewa)
Bercak ini mulai terlihat 12 atau 24 jam setelah demam berakhir. Kemudian, setelah 2 sampai 3 hari kemudian, bintik merah ini akan menghilang dan tidak menimbulkan bekas. Sedangkan pada campak, bintik merah yang muncul akan menimbulkan bekas kehitaman ketika menghilang.

Tidak ada perawatan yang benar-benar mengatasi Roseola, karena kondisi ini sangat umum terjadi pada balita. Tapi jika gejala ini tidak juga berhenti yang kemudian diikuti dengan kejang-kejang dan demam tinggi, sebaiknya Anda langsung segera membawa si kecil ke dokter untuk diperiksa lebih lanjut.

Penanganan:

Beri obat penurun demam untuk anak tetapi jangan gunakan aspirin, sebab bila bereaksi dengan virus dapat memicu timbulnya sindroma Reye (menyebabkan pembengkakan hati dan otak). Kompres dengan air hangat, beri banyak cairan untuk mencegah dehidrasi. Masa inkubasi penyakit ini rata-rata 5–15 hari, dan umumnya akan sembuh dalam waktu sekitar 1 minggu.

2. Penyakit Campak

Campak adalah suatu infeksi yang diakibatkan oleh virus dan sangat menular. Infeksi ini biasa ditandai dengan demam, batuk, peradangan selaput ikat mata atau konjungtiva, dan munculnya ruam pada kulit. Infeksi ini biasa disebabkan oleh infeksi virus campak golongan Paramyxovirus.

Infeksi campak bisa terjadi melalui percikan ludah penderita campak yang tidak sengaja terhirup oleh orang lainnya. Penularan bahkan bisa terjadi sebelum keluar ruam pada kulit, dan juga 4 hari setelah ruam kulit mulai bermunculan.

Penyakit campak ini paling rentan tertular pada bayi berumur lebih dari 1 tahun, bayi yang tidak diimunisasi, dan juga dewasa muda yang belum mendapatkan imunisasi kedua.

Campak pada ditandai dengan demam yang makin lama makin tinggi, pada saat demam sedang tinggi tingginya, bercak merah kemudian muncul. Bercak merah muncul dari garis perbatasan rambut dan kulit, belakang telinga kemudian menyebar ke seluruh tubuh.

Demam perlahan akan turun, diikuti oleh ruam yang menghitam. Gejala lain yang sering ditemukan adalah infeksi pernapasan atas (batuk dan pilek), sariawan, dan mata merah (konjungtivitis).

Pada beberapa kasus juga dapat disertai dengan radang paru, diare dan infeksi pada telinga. Gambaran khas dari campak lainnya adalah ditemukannya bercak koplik, yaitu bercak berwarna putih seperti sariawan pada mukosa pipi bagian dalam, biasanya didepan gigi geraham dua.

Namun, Campak tidak harus selalu ditandai dengan demam yang disertai bercak merah. Berbagai penyakit lain juga dapat timbul dengan gangguan seperti itu. Kesalahan diagnosis tersebut bukan hanya terjadi pada orang awam, dokterpun sering terkecoh berbagai penyakit lain yang dianggap sebagai campak.

Sehingga, seringkali anak didiagnosis campak lebih dari sekali, karena seharusnya bila terkena penyakit campak seumur hidup tidak pernah terkena lagi karena mempunyai kekebalan alamiah permanen.

Bila diagnosis campak tidak benar, anak tidak diimunisasi campak karena sudah mengalami campak, padahal diagnosisnya tidak benar. Keadaan ini berisiko anak dapat terkena penyakit campak yang sebenarnya.

Ciri khas dari penyakit campak selain keluar bintik merah setelah demam naik turun pada bayi, biasanya juga diiringi dengan timbulnya gejala lain. Seperti bintik merah yang muncul disertai dengan pilek, demam yang masih tinggi, bintik merah yang semakin banyak selama 5 hingga 7 hari, lalu seminggu kemudian akan timbul bekas kehitaman pada anak.

Sejumlah karakteristik penyakit campak yang membedakannya dengan penyakit lain. (Gambar: istimewa)
Penanganan:
 
Kompres bagian lipatan tubuh anak menggunakan air hangat dan hindari menyelimuti tubuhnya. Sebab panas tubuhnya justru akan meninggi dan bisa mengakibatkan kejang demam. Jika panasnya terus meningkat, sebaiknya anak tidak dimandikan.

Jaga kebersihan tubuhnya dengan mengelap tubuhnya menggunakan air hangat. Pastikan anak tak kekurangan cairan dan berikan makanan dalam porsi kecil, namun sering. Jika anak sudah pernah diberi imunisasi campak, masih mungkin ia terkena penyakit ini namun biasanya dengan gejala yang lebih ringan.

3. DBD (Demam berdarah)

Penyakit demam berdarah dengue, atau DBD, biasa ditandai dengan munculnya bintik merah yang mirip dengan campak pada hari pertama hingga ke empat. Bintik merah ini akan hilang setelah hari kelima hingga hari ketujuh.

Tetapi, saat kulit diregangkan bintik merah tersebut tidak akan hilang. Walau bentuknya mirip gigitan serangga, bintik merah ini tidak menimbulkan rasa gatal karena ia timbul akibat pecahnya pembuluh darah di dalam tubuh.

Seringnya, bintik ini banyak ditemukan di daerah lipatan tangan si penderita. Tetap waspadai gejala lain dari penyakit ini karena bercak merah tak harus muncul di hari pertama saat anak terjangkit demam berdarah.

Penanganan:

 
Pastikan Anda tetap siaga. Saat anak mengalami panas tinggi atasi dahulu dengan obat penurun panas dan jaga agar ia tak kekurangan cairan. Lakukan pengecekan laboratorium sejak panas hari pertama. Bila kaki dan tangannya dingin, atasi dengan memberikan infus atau minum sebanyak-banyaknya. Masa kritis ini akan berlangsung selama 24-28 jam.

Kecenderungan orangtua menganggap remeh gejala awal penyakit dan ini lah penyebab buruk bagi anak. Cegah demam berdarah dengan 3M dan harus selalu membersihkan ruangan agar tidak ada nyamuk.

Tanda atau gejala penyakit demam berdarah pada anak (Foto: istimewa)
4. Infeksi Hand-Foot-And-Mouth Disease (HFMD)

Infeksi ini biasa disebut juga Flu Singapura. Gejala dimulai dengan demam, sakit tenggorokan, dan kehilangan nafsu makan. Beberapa hari setelah demam, rasa sakit di tenggorokan akan mulai merambat ke daerah mulut. Di saat yang bersamaan, bercak-bercak merah akan mulai muncul pada bagian telapak tangan dan telapak kaki si kecil.

Pada kasus yang lebih parah, gejala flu ini juga ditandai dengan keluar bintik merah setelah demam pada anak. Bintik merah ini akan mulai muncul pada bagian telapak tangan dan telapak kaki anak. Bahkan, jika semakin parah, bintik merah ini juga akan menyebar hingga ke daerah pundak, bokong, dan bagian kelamin.

Bintik-bintik tersebut akan berisi air. Bersamaan dengan itu muncul demam tinggi, sakit tenggorokan, luka seperti melepuh berwarna merah di lidah, gusi, dan di pipi. Keadaan ini akan membuat anak kesulitan makan.

Penyebab flu ini adalah virus bernama enterovirus A yang menyebar ke jaringan mulut, lalu masuk ke dalam sistem pencernaan hingga menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Infeksi HFMD juga tidak memiliki obat khusus. Biasanya penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu kurang dari seminggu.

Penanganan:


Untuk meredakan gejala dan mengurangi rasa sakit si kecil, Anda dapat menggunakan obat pereda rasa sakit (tetap dengan dosis yang dianjurkan) atau semprotan mulut. Flu Singapura yang menular ini tidak membutuhkan pengobatan khusus atau antibiotik. Gangguan ini biasanya akan pulih dalam waktu seminggu.

Yang penting dilakukan adalah memberi penderita minum air yang tidak panas karena bisa membuat tenggorokan tambah sakit. Untuk meredakan nyeri atau demam biasanya dokter memberi obat penurun demam.

Untuk mencegah flu Singapura, Anda sebaiknya membersihkan perlengkapan makan tidur yang dicurigai terkontaminasi virus dan melatih anak untuk mencuci tangan.

5. Penyakit Kawasaki

Penyakit kawasaki ini merupakan suatu kondisi yang juga dikenal dengan nama sindrom kelenjar getah bening, penyakit simpul mukokutan, poliarteritis kekanak kanakan. Sindrom kawasaki ini biasanya menyerang bayi dan mempengaruhi banyak organ si bayi.


Termasuk kulit, selaput lendir, kelenjar getah bening, dan dinding pembuluh darah. Akan tetapi, sindrom kawasaki ini bisa memberikan efek yang sangat serius jika sampai menyerang jantung. Karena dapat beresiko menyebabkan dilasi aneurismal yang parah.

Demam yang disertai bercak merah dapat terjadi pada bayi yang dapat mempengaruhi beberapa organ termasuk kulit, kelenjar getah bening, selaput lendir dan juga dinding pembuluh darah akan tetapi efek yang paling serius pada jantung yang akan beresiko lebih tinggi pada anak.

6. Penyakit kelima (Fifth Disease/Parvovirus B19)

Sama dengan dua kondisi sebelumnya, penyakit kelima juga adalah infeksi ringan yang umum terjadi pada anak-anak balita. Penyakit ini biasanya akan dimulai dengan gejala flu dan demam ringan. Setelah 7-10 hari kemudian, bercak yang berbentuk “tamparan di pipi” ini akan mulai muncul. Bercak ini juga mampu menyebar hingga ke seluruh bagian tubuh.

Bagi sebagian anak, penyakit kelima ini akan berkembang dan berhenti tanpa meninggalkan bekas apapun. Namun akan sangat berbahaya bagi para ibu hamil karena berpotensi menularkannya terhadap bayi yang sedang dikandung olehnya, atau bagi anak-anak yang mengidap penyakit anemia.

7. Rubella atau Campak Jerman

Penyakit Rubella seringkali disebut dengan nama campak Jerman. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus. Virus rubella dapat menginfeksi tubuh melalui hidung dan tenggorokan. Meskipun demikian pada anak-anak lebih cepat dibandingkan dengan orang dewasa.

Virus rubella dapat pula ditularkan oleh ibu hamil kepada janinnya sehingga untuk mencegah penyebarannya ibu hamil disarankan melakukan pemeriksaan tes rubella sebelum merencanakan kehamilan.

Pada umumnya, cara mengobati panas dingin anak-anak yang terkena virus Rubella cenderung lebih cepat sembuh dibandingkan dengan orang dewasa yang terkena virus Rubella. Penyakit ini sering kali berlangsung sebentar dan berlalu tanpa diketahui. Biasanya, seseorang mengalami penyakit Rubella ini hanya selama 1 hingga 3 hari.

Rubella lazim dikenal dengan istilah demam tiga hari. Berbeda dengan dua jenis penyakit sebelumnya, demam yang terjadi biasanya bersifat subfebrile atau tidak terlalu tinggi. Ruam biasanya berlangsung hanya 3 hari dan sudah mulai muncul sejak awal perjalanan penyakit.

Ruam pada bayi. (Foto: istimewa)
Ruam pada rubella muncul pada wajah terlebih dahulu, baru kemudian menyebar ke batang tubuh, tangan dan kaki. Rubella biasanya disertai dengan pembesaran kelenjar getah bening pada belakang telinga atau leher, nyeri kepala dan nyeri tenggorokan.

8. Infeksi Mononukleoss

Penyakit ini ditandai dengan demam disertai dengan nyeri pada tenggorokan dan juga pembesaran kelenjar getah bening yang disebabkan oleh virus. Virus penyebab infeksi mononukleoss yaitu virus Epstein-Barr yang juga merupakan salah satu virus Herpes dan dapat menyerang anak-anak, remaja dan usia dewasa.

Virus ini menginfeksi tubuh dengan menyusup melalui sel sel hidung dan tenggorokan. Kemudian demam disertai gatal pada anak menyebar ke limfosit B.

9. Allergic Drug Eruption atau Erupsi obat
Erupsi obat alergi merupakan suatu reaksi alergi yang timbul pada kulit sebagai efek dari pemberian obat tradisional penurun panas secara sistemik. Pada pemeriksaan fisik, erupsi obat meriang di apotik biasa menunjukkan timbulnya bintik merah atau tampak papul eritematous diskret di seluruh tubuh.

Kebanyakan bintik merah pada kasus alergi awalnya muncul satu persatu, dan tersebar di bagian tertentu saja seperti perut, kaki, tangan dan wajah serta menimbulkan rasa yang sangat gatal.

Semakin sering bintik tersebut digaruk maka bentuknya pun akan semakin lebar seperti pulau dan jika diraba bagian merah tersebut terasa timbul. Alergi dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor seperti dingin, debu, makanan atau udara.

Penanganan:


Kondisi ini biasanyanya dapat diobati dengan terapi sistemik berupa kortikosteroid, antihistamin, dan topikal. Selain itu, atasi sesuai dampak yang timbul, jika demam, turunkan panasnya dengan obat penurun demam yang aman untuk anak bila diperlukan.

Kompres dengan lap bersih yang dibasahi dengan air hangat. Jika terkena gangguan pencernaan, banyak berikan cairan seperti ASI, air putih atau oralit. Bila kesadaran menurun dan balita kejang, segera bawa ke dokter.

Lakukan tes alergi untuk mengetahui alergen apa saja yang perlu ia hindari. Seiring bertambahnya usia, biasanya reaksi alergi dapat berkurang karena daya tahan yang semakin kuat.

10. Penyakit Cacar

Bintik-bintik merah yang berubah menjadi tonjolan-tonjolan bening atau bintil yang berisi cairan dan terasa nyeri serta sangat gatal yang timbul di sekitar dada, perut atau punggung merupakan ciri penyakit cacar. Jadi, bila bintik merah yang timbul belum menjadi bintil, maka belum bisa dikatakan anak menderita cacar.

Bintik di tubuh balita Anda akan bertransformasi menjadi bintil-bintil kecil dalam waktu sekitar 24 jam setelah anak demam. Agar tidak menular pada orang di sekitarnya, anak disarankan untuk tidak banyak terkena angin.

Penanganan:


Tingkatkan daya tahan tubuh anak melalui asupan makanan bergizi dan istirahat. Untuk gatalnya, oleskan bedak dingin tipis-tipis atau bedak pengurang gatal yang dapat membuat kulit anak terasa lebih nyaman. Bedak ini juga berfungsi mengurangi gesekan pada kulit sehingga mengurangi risiko iritasi.

Selama sakit, ia boleh mandi seperti biasa untuk menghindari penumpukan kuman. Selain itu, hindari anak terlalu banyak terkena angin karena dapat memperburuk kondisi penyakitnya. Masa inkubasi penyakit ini sekitar 10-21 hari.

Demikian 10 jenis penyakit yang berhubungan dengan demam pada anak. Dalam berbagai kasus, demam yang disertai bercak-bercak merah dapat diobati di rumah. Jangan 'manjakan' anak anda dengan obat-obatan dari dokter setiap ada gejala penyakit yang dialami bayi, karena akan dapat merusak kondisi anak di masa depan.

Untuk itu, diperlukan ketelitian, kecermatan dan kecerdasan orang tua, kapan anak harus dibawa ke dokter, dan kapan harus ditangani sendiri. Di satu sisi, terkadang Anda juga perlu mempercayai insting dalam kondisi ini dengan tidak mengendurkan kewaspadaan.

Namun, orang tua sebaiknya segera memeriksakan anak apabila setelah tiga hari demam tidak mengalami perbaikan, dan ditemukan adanya gejala lain yang mengalami perburukan. Pemeriksaan juga diperlukan untuk menyingkirkan penyakit lain yang menunjukkan gejala berupa ruam pada tubuh, misalnya Demam Berdarah, Demam Skarlatina, dan juga Sindrom Kawasaki.

Buatlah janji dengan dokter atau segera bawa buah hati Anda ke rumah sakit. Atau bila Anda sangat khawatir, konsultasikan kondisi ini kepada dokter sebelum Anda melakukan metode lainnya kepada si kecil. (fg)

Tags

Shares ShareTweet
advertisement iklan

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.

Editor Picks