Load more

Kebiasaan Makan Sirih Pinang Jadi Pemicu Kanker Mulut Terbesar di PNG

Shares ShareTweet
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia WHO, Papua Nugini memiliki tingkat kejadian kanker mulut tertinggi di dunia. Kebiasaan memakan sirih pinang dituding sebagai faktor pemicu utama. (Foto: hiveminer.com/Mangiwau)
“Lebih banyak orang mengunyah pinang sekarang. Semua orang tahu itu buruk bagi mereka, tapi mereka tetap melakukannya karena ini adiktif. Ini menjadi kebiasaan, seperti minum secangkir teh.”
PORT MORESBY -- Memakan pinang atau sirih pinang bagi orang zaman dulu di sejumlah negara di kawasan Asia-Pasifik dulu adalah sesuatu yang biasa. Bahkan Sirih pinang dianggap banyak memberikan manfaat bagi kesehatan. Namun, tidak untuk Papua Nugini, di negara itu makan sirih pinang justru jadi bencana kesehatan dan isu nasional saat ini.

Di Papua Nugini, popularitas pinang yang memiliki sifat psikotropika semakin melejit. Dengan tingkat kanker mulut yang melonjak, bangsa ini berjuang untuk mengendalikan kecanduannya terhadap kebiasaan yang terus meningkat ini.

Sirih Pinang dulunya hanya dapat dikonsumsi dalam upacara suci, sekarang hampir separuh masyarakat Papua Nugini mengunyah buah pinang. Sudah menjadi kebiasaan bagi anak-anak semuda enam tahun untuk mengunyahnya, dan pecandu mengaku mengunyah buah itu setiap hari dari pagi sampai malam.

Di Papua Nugini, di mana dia dikenal secara lokal sebagai “buai”, itu dikonsumsi dengan tongkat sirih yang dicelupkan ke bubuk kapur. Dikunyah dan lalu diludahkan, ia menciptakan rasa euforia dan meningkatkan kewaspadaan.

Pada festival budaya tahunan di Provinsi New Britain Timur, tanda-tanda penggunaan pinang ada di mana-mana. Ludah dan ampasnya mengotori tanah akibat laki-laki, perempuan, dan kaum muda tertawa dan bercakap-cakap dengan bibir bernoda merah cerah.

Sebuah suku dari pegunungan Baining tampil dan Philomena datang ditemani kelima anaknya yang berusia 8 hingga 18 tahun. Mereka semua mengunyah pinang.

Bekas muntahan ludah hasil makan sirih pinang dianggap sebagai penyebar berbagai macam penyakit. (Foto: halamanpapua.org/Mahardika Yudha)
Saat Philomena mengunyah pinang (pupil) matanya melebar dan dia mulai berkeringat. “Ini adalah stimulan, ini memberi Anda perasaan fly dan membuat pikiran Anda terus berjalan saat Anda merasa bosan.” Lalu ia meludahkan cairan merah itu dari mulutnya.

Sirih Pinang mengandung bahan aktif sirih, arecoline, bekerja pada protein reseptor yang sama di otak dengan reseptor yang bekerja dengan nikotin. Bahan ini sangat adiktif dan juga bersifat karsinogenik.

Papua Nugini memiliki tingkat kejadian kanker mulut tertinggi di dunia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia WHO, hampir satu dari setiap 500 kasus kanker mulut dan oropharyngeal (belakang tenggorokan) terjadi di Papua Nugini dan ini adalah kanker pembunuh terbesar di negara itu.

Dr Yvonne Sapuri, yang mendiagnosis sekitar dua kasus baru kanker mulut setiap minggunya di Rumah Sakit Umum Kimbe di New Britain Barat, khawatir bahwa angka-angka ini pun sangat menyepelekan angka sebenarnya.

“Statistik dan data kami tidak begitu akurat dan banyak kasus tidak terdiagnosis. Saya telah memperhatikan adanya peningkatan dalam jumlah pasien kanker yang dicurigai menderita luka di mulut.”

Ini terjadi di sebuah negara dengan fasilitas kesehatan terbatas, sering terjadi kekurangan obat-obatan dan sedikit ahli onkologi. Dengan popularitas pinang semakin meningkat, beban masa depan pada sistem kesehatan nasional untuk pengobatan kanker bagaikan bom waktu yang siap meledak.

“Lebih banyak orang mengunyah pinang sekarang. Semua orang tahu itu buruk bagi mereka, tapi mereka tetap melakukannya karena ini adiktif. Ini menjadi kebiasaan, seperti minum secangkir teh.”

Baik di wilayah Papua Barat (Indonesia) dan Papua Nugini, buah pinang menjadi salah satu komoditi utama yang diperjualbelikan para penduduk setempat. (Foto: rumahkopi/dombosina.blogspot.co.id)
Dalam sebuah respon yang keras, larangan penjualan dan konsumsi pinang di Port Moresby telah berlaku selama tiga setengah tahun. Sebelumnya diperkirakan bahwa pinang seharga sekitar £500.000 diperdagangkan di ibu kota itu setiap minggunya.

Langkah tersebut disebut sebagai bunuh diri politik untuk Gubernur kota itu, Powes Parkop, yang mempelopori pelaksanaannya. Dalam minggu-minggu menjelang pemilihan umum negara tersebut, sebagian dari larangan tersebut diangkat.

Sekarang, larangan tersebut memungkinkan penjualan pinang sesuai regulasi di lokasi yang disetujui. Tapi itupun ditandai dengan kontroversi: dikritik karena kebrutalan polisi dalam penegakannya dan menghancurkan penghidupan pemasok pinang.

Banyak orang Papua Nugini mengandalkan penjualan pinang sirih untuk penghidupan mereka. Pasar sering memiliki area khusus yang didedikasikan untuk pedagang pinang. Harga untuk satu buah pinang dan sirih bervariasi, bergantung pada lokasi, musim, dan kondisi pertumbuhan tanaman ini.

Salah satu faktor pendorong di balik larangan tersebut adalah untuk membersihkan ibu kota dari residu ini. Ludahan air yang mengandung patogen meningkatkan penyebaran penyakit. Di negara dengan tingkat infeksi TBC tertinggi di dunia, kebiasaan ini menimbulkan risiko kontaminasi yang sangat besar.


Masalah kebiasaan makan sirih pinang bukan hanya terjadi di Papua Nugini, di Papua Indonesia, kebiasaan makan sirih pinang juga sudah dianggap sebagai gangguan. Sosialisasi untuk mengendalikan mengonsumsi sirih pinang pun sudah semakin gencar dilakukan. (fg)

Sumber: BBC / Tabloidjubi

Tags

Shares ShareTweet
advertisement iklan

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.

Editor Picks