Load more

Kisah Tragis Kaum LGBT Ini Viral Di Media Sosial

Shares ShareTweet
Para penderita HIV AIDS yang umumnya dari para pelaku LGBT (foto ilustrasi: istimewa)
Sejak Mahkamah Konstitusi (MK) menolak perlakukan hukum untuk para pelaku LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender), masalah penyakit masyarakat ini langsung menjadi pembicaraan utama di masyarakat terutama di dunia maya. 

Setidaknya pembicaraan soal LGBT menjadi isu yang paling banyak dibahas di media sosial (medsos) seperti Twitter dan Facebook.

Masyarakat umumnya mengecam keputusan MK tersebut dan menganggap masa depan generasi muda Indonesia berada dalam ancaman bahaya penyakit masyarakat dan bahkan bisa menghancurkan sebuah generasi. 

Namun, walau begitu tidak sedikit juga yang mendukung MK. Umumnya berasal dari kelompok aktivis LGBT atau bahkan para pelaku LGBT itu sendiri.

Di Indonesia penyuluhan mengenai bahaya laten LGBT sebenarnya sudah sering dilakukan, terutama oleh kalangan akademisi dan kalangan praktisi kesehatan. Namun, ironisnya penganut LGBT justru semakin meningkat setiap tahunnya.

Salah satu tulisan yang sempat viral dan telah dishare berkali-kali di medsos adalah komentar dari seorang dokter ahli syaraf yang menjelaskan mengenai tragisnya akhir hidup dari kaum LGBT.

Dr. Ani Hasibuan SpS, ahli syaraf yang sering praktek di RSCM tersebut menjelaskan secara detail melalui tulisannya, mengenai pengalamannya dalam menangani pasien dari kaum LGBT. 

Ani Hasibuan berharap tulisannya tersebut dapat dijadikan pelajaran oleh kaum ibu terutama yang memiliki anak-anak dalam proses pertumbuhan dan perkembangan.
Polisi menggerebek pesta gay atau homo di sebuah ruko di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Polisi menetapkan 10 orang sebagai tersangka dalam kasus tersebut.(Foto ilustrasi: istimewa)
Berikut tulisan ahli syaraf tersebut:
Sekedar berbagi cerita dari poli saraf untuk ibu-ibu, supaya kita semakin gencar menjaga lingkungan keluarga, lingkungan tempat tinggal, dan lingkungan sekolah.

Sebab LGBT itu PREDATOR, mereka SANGAT AGRESIF. dan kini, kita semua tahu, mereka didanai oleh PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa - Red). Dan taipan-taipan kelas dunia. LGBT itu agenda zionisme, untuk mewujudkan dunia satu komando (NEW WORLD ORDER).

Sejak 1997 saya berurusan dengan para gay. Sampai hari ini, belum pernah absen. Mereka pasien terbanyak HIV yang saya tangani. Yang hidup tinggal beberapa saja. Barusan suster saya lapor ada lagi yg meninggal 3 hari lalu, denga kriptokokus meningitis (infeksi jamur di otak).

Dari pengamatan saya, Gay itu ada “kasta”nya. Ada yg dominan, biasanya yang punya uang dan lebih tua secara umur, ada yang submissif, kalau saya perhatikan, semacam “peliharaan”. Peliharaan ini berkasta juga, ada anak muda putih bersih klimis dari kalangan keluarga menengah, ada juga yang kelas sandal jepit (bukan yang harga 18 ribu ya).

Perlakuan dari yang dominan pada peliharaan juga berbeda sesuai "KW" peliharaan. Yang KW ori diperlakukan sangat istimewa. Waktu saya kerja di klinik HIV RSCM, pernah dapat pasien mahasiswa universitas swasta terkenal di jakarta, yang kena meningitis kriptokokus (jamur otak).

Orang tuanya pekerja petrol, tinggal di Dallas, Amerika Serikat. Dia disini tinggal sendiri. Anaknya tampan, klimis, dan kelihatan anak baik. Dominannya sering ikut mengantar kalau kontrol.

Jangan kaget ya, dominannya ini seorang AKTIVIS LSM ANTI-HIV. Itu kalau si pasien saya ini mengeluh sakit kepala, si dominan ini mengelus-elus punggung si submissif sambil bilang “sakit ya sayang? Yang mana yang sakit? Sabar ya sayang..” (untung saya masih setia pada sumpah Hipocrates, kalau saya berkhianat, si dominan itu mau saya suntik Fentanyl 1000 cc biar mokat.

Tapi saya pernah juga dapat seorang dominan yang kena infeksi di medulla spinalis, spondilitis TB, jadi lumpuh kedua kakinya tiba-tiba. Pas dirawat, submissifnya datang menemani. Itu dibentak-bentak, gak ada sayang-sayang, si submissif ini tampilannya sih ya kelas sandal jepit. Manggil dominannya “abaaaang..” (jijik ya dengarnya).

Ada juga peliharaan bayaran. Satu pasien saya asal Jogja (sekarang sudah meninggal dengan Toksoensefalitis; bisul di dalam otak karena kuman tokso yang sering nempel di badan kucing, anjing), mengaku dia bayaran.

Di 'pelihara' seorang aki-aki (kakek tua) China untuk bayaran 1000 sampai 2000 USD per bulan. uangnya dia kirim ke Jogja untuk anak dan istrinya. Dia ini sejatinya bukan gay. Jadi semacam pelacur lelaki. Kerja sebagai caddy lelaki di satu lapangan golf di Tangerang.

Waktu ketahuan HIV dan Tokso, nangis meraung-raung, selama dirawat baca Al-Qur’an terus, kalau saya periksa, selalu terisak-teriak dan bilang menyesal. Pas ketemu bininya, saya yang berkaca-kaca. Sebab bininya perempuan berhijab rapi dengan dua balita yang juga berhijab.

Ada juga gay kakak-adik. Sejak kecil dikasih satu kamar dan satu ranjang oleh emak bapaknya. Pas gede, tahu-tahu yang kakak kena Kripto. Dicek HIV positif, ditanya pasangannya siapa, dia bilang adiknya.

Pas adiknya dicek, positif juga HIV-nya. Kedua-duanya sudah meninggal, dalam satu ruang rawat yang sama. Ayahnya sampai anak-anak itu dikubur pun gak pernah mau datang nengok.

Hati-hati dengan anak-anak, ajarkan mereka untuk bertindak agresif kalau ada yang coba-coba menggoda (gay), jangan kasih ampun, langsung pukuli beramai-ramai. Pengalaman saya dari anak-anak yang kena goda para penyuka anus ini, mereka makin agresif kalau yang digoda diam atau menunjukkan rasa takut.

Tapi langsung berhenti kalau yang digoda langsung main fisik, (beberapa anak muda yang digoda gay konsultasi ke saya bersama orang tuanya).

Dan bila anak bepergian, jangan ijinkan kalau sendirian. Usahakan beramai-ramai, supaya nyalinya tidak ciut kalau ada gay yang datang menggoda. Mereka bisa tawarkan apa saja, bisa uang, bisa ancaman, bisa bujuk rayu.

Dari wawancara dengan pasien-pasien gay, mereka ini tadinya smua pernah mengalami anal seks, sebagian besar secara paksa. Setelahnya mereka akan sangat dijaga dan ditemani oleh kelompok gay. Pergaulannya diganti jadi pergaulan gay, dan seterusnya.

Cerita gay semuanya tragis. Belum pernah saya dengar yang berakhir seperti di cerita Fairytopia, misalnya berakhir kayak Cinderella. Kisah para gay berakhir dengan Tokso, Kripto, TB, Pnemonia, Kandida, dan diujungnya, mati sendirian tanpa didampingi kaum nya.

Saya enggak mengerti kenapa pemerintah abai pada masalah ini? Sejak 1997, Prof. Sjamsurijal enggak capek-capeknya mengingatkan, tapi faktanya, mereka semakin banyak.

Semoga Allah senantiasa melindungi kita dan generasi penerus bangsa ini dari kedzhaliman orang-orang yg dzhalim, amiin.

#semoga bermanfaat

Tags

Shares ShareTweet
advertisement iklan

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.

Editor Picks