Load more

Mendekati Pilpres 2019, Mobil Esemka Kembali Dipoles

Shares ShareTweet
Mobil Esemka Digdaya dan perbandingannya dengan mobil buatan China. (ilustrasi Photo: mobil123.com)
“Masalah muncul ketika mobil hasil rakitan ini kemudian dibawa ke Solo untuk dipamerkan di SMK 2, Solo, dan kemudian diklaim sebagai (calon) mobil nasional oleh Walikota Solo Jokowi,”
SOLO -- Setelah lama tak diketahui rimbanya, mobil Esemka yang sempat melambungkan nama Joko Widodo dalam kancah perpolitikan nasional, kini kembali muncul. Kabar terakhir, Esemka sedang membangun pabrik perakitan mobil di Boyolali. Bahkan, salah satu mobil Esemka tertangkap kamera.

Foto bagian belakang mobil dengan tulisan Esemka Digdaya tersebar di jagat maya. Akun Didik Wahyudhi di Facebook mengunggah foto bagian belakang Esemka Digdaya tersebut.

Menurut keterangan di kolom komentar, Didik Wahyudhi mendapat foto ini dari rekannya di Solo. Terlihat dalam foto, Esemka Digdaya ini menggunakan pelat nomor berwarna putih yang biasa digunakan untuk coba kendaraan bermotor.

Esemka Digdaya merupakan salah satu mobil pikap kabin ganda (double cabin) yang dibuat oleh SMK 1 Singosari. Dari sisi bentuk, Digdaya memiliki bentuk yang lebih orisinil karena sedikit menggunakan parts dari mobil lain.

Saat itu dikabarkan, pilihan-pilihan mesin untuk Digdaya tersebut antara lain mesin bensin berkapasitas 1.500 cc, 1.800 cc, 2.000 cc, dan 2.200 cc.

Mobil 'Tunggangan' Pencitraan

Keberadaan mobil Esemka memang sangat fenomenal, se-fenomenal kemunculan Joko widodo dari seorang pimpinan sebuah kota kecil, langsung melambung menjadi figur nasional secara instan.

Awalnya Esemka digembar gemborkan sebagai produk asli buatan dalam negeri. Dengan kekuatan media massa, gegap gempita Esemka hampir setiap saat memenuhi sejumlah pemberitaan layar televisi dan media massa lainnya. 


Otomatis, Jokowi yang saat itu dianggap sebagai pencetus dan pelopor penciptaan mobil Esemka langsung menjadi orang paling diperbincangkan di seantero Indonesia.

Namun, belakangan fakta-fakta mulai terkuak, bahwa Esemka tak lain hanyalah sebuah mobil rakitan buatan China. Sukiyat, pengusaha bengkel di Klaten yang saat itu menjadi salah satu mitra dalam perakitan mobil Esemka, mengaku bahwa mobil yang dirakitnya sebetulnya hampir semua komponennya mencomot dari komponen mobil produk lain.

“Yang betul-betul saya buat sendiri adalah chasis dan body mobilnya,” ujar Sukiyat dalam wawancara dengan Espos di kantornya, Sabtu (3/3/2012).

Joko Widodo saat memperkenalkan mobil Esemka. (Foto: Merdeka.com)
Pengusaha bengkel itu mengatakan dirinya tidak berbohong soal mobil Esemka. “Mobil itu hanya hasil praktek sejumlah siswa Esemka Trucuk. Jadi saya juga bingung dan kaget kalau kemudian mobil Esemka ini diklaim sebagai mobil nasional.”

Sukiyat, salah satu orang yang ikut merakit mobil Esemka dan belakangan didepak dari proyek Esemka, mengaku bahwa mobil yang dirakitnya menggunakan sejumlah komponen dari mobil lain.

“Mana bisa Indonesia memproduksi gigi transmisi, sehingga saya beli komponen buatan Cina di Surabaya,” ujar Sukiyat lagi.

Diketahui bahwa, mobil yang diberi nama dengan ESEMKA adalah mobil yang diimpor dari China bermerek Foday dari buatan pabrik Foday Automobile Co.,Ltd yang bermukim di Boai Road East, SHISHAN TECHNOLOGICAL & INDUSTRIAL PARK B, NANHAI DISTRICT, FOSHAN CITY, GUANGDONG, China.

Lucunya untuk meyakinkan seluruh penyaksi mobil ESEMKA, tutup blok mesin dibuat dengan nama ESEMKA yang seolah-olah memang benar-benar buatan para pelajar SMK bersama Bengkel Sukiyat.

“Masalah muncul ketika mobil hasil rakitan ini kemudian dibawa ke Solo untuk dipamerkan di SMK 2, Solo, dan kemudian diklaim sebagai (calon) mobil nasional oleh Walikota Solo Jokowi,” beber Sukiyat.

Kurang Riset dan Tidak Profesional

Mobil Esemka yang berhasil mengantarkan Joko Widodo menjadi Gubernur DKI Jakarta dan bahkan RI 1 itu, banyak mendapat tanggapan dari berbagai golongan masyarakat. Bahkan, Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden ke-3 Republik Indonesia, mengatakan, mobil Esemka tidak dibuat secara profesional.

"Mobil Esemka itu cuma dolanan, pembuatannya tidak profesional. Masa anak-anak yang baru tamat sekolah menengah pertama (SMP) sudah mau jadi montir, ya, pasti belum ada pengalaman," kata BJ Habibie di Jakarta, Rabu (7/3/2012).

Menurut Habibie, untuk bisa menciptakan sebuah industri otomotif diperlukan pengalaman serta riset yang cukup, tidak serba instan. "Untuk bisa masuk ke dalam industri otomotif dan bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar, membutuhkan waktu yang panjang," tutur dia.

Tokoh nasional yang sering dijuluki Bapak Teknologi Indonesia ini juga meyakini kecurigaannya akan adanya kepentingan politik di balik pemberitaan mobil Esemka. "Menurut saya, ada ’interest’ politik di balik semua ini. Oleh karena itu, saya sarankan media berhenti mengangkat topik ini, anggap sepi saja," ujar BJ Habibie.

Sedangkan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Muhammad Nuh menyindir proyek mobil Esemka yang dinilai kurang riset. M Nuh menilai mobil Esemka tidak berdasarkan penelitian dan dinilai asal-asalan, dan membandingkannya dengan konsep pembuatan mobil Esemka dengan Mobil Listrik Nasional buatan ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember).

Esemka Kembali Dipoles Untuk Pilpres 2019 ?

Kemunculan sang fenomenal mobil Esemka setelah lama hilang menjadi pertanyaan banyak kalangan. Bahkan di dunia maya dan media sosial, kemunculan Esemka langsung menjadi perdebatan dan perbincangan para netizen. 


Bukan tanpa sebab, janji Jokowi untuk menjadikan Esemka sebagai mobil nasional nyatanya tak pernah terwujud. Jokowi bahkan menjanjikan Esemka akan menjadi sebuah perusahaan otomotif yang akan membanggakan Indonesia saat itu.

"Kan udah melalui uji, bukan uji emisi. Udah uji emisi berulang kali, tetep goal. Terus juga udah dibuatkan PT-nya juga. Sebetulnya ini hanya masalah bisnis saja, soalnya basicnya sudah selesai," sesumbar Jokowi, di Jakarta Selatan, Rabu (30/4).

Para netizendi dunia maya membandingkan mobil Esemka Digdaya dengan mobil buatan China. (Foto: istimewa)
Hangatnya perdebatan mengenai mobil Esemka saat ini tak bisa dilepaskan dari konstelasi politik nasional. Ditengah banyaknya janji politik yang tak bisa dipenuhinya, keberadaan mobil Esemka bisa menjadi bumerang bagi elektabilitas Jokowi pada pilpres 2019 nanti.

Konspirasi sejumlah media massa yang telah menciptakan branding Jokowi dan Esemka hingga melambungkannya menduduki kursi Presiden RI terpatri kuat dalam ingatan masyarakat. Esemka akan diidentikkan dengan Jokowi, begitupun Jokowi akan selalu mengingatkan masyarakat kepada mobil Esemka.

Mendekati akhir masa jabatannya, tahun politik 2019 dan 2019 yang semakin dekat, dan kemunculan tiba-tiba mobil Esemka setelah lama menghilang, tentunya bukan sebuah kebetulan semata. Jokowi dan barisan pendukung maupun tim suksesnya tentu akan kembali mempertimbangkan segala kemungkinan ini.

Pertanyaannya akankah Esemka bisa kembali menjadi tunggangan pencitraan yang efektif untuk kembali mendongkrak elektabilitas Jokowi, dan seberapa cerdas rakyat Indonesia bisa menerima propaganda pencitraan semu demi sebuah surat suara? Mungkin Pemilihan Presiden 2019 nanti akan menjadi pertarungan dan pertaruhan besar bagi bangsa Indonesia di masa depan.(fg)

*Dari Berbagai Sumber

Tags

Shares ShareTweet
advertisement iklan

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.

Editor Picks