Load more

Rakyatnya Malas nge-Seks, Jepang Diprediksi Punah Tahun 3766

Shares ShareTweet
Jepang sedang mengalami masalah darurat populasi. Setiap tahunnya jumlah penduduk yang melahirkan di negara itu semakin menurun, hal ini diakibatkan rendahnya minat rakyat di negara itu untuk melakukan hubungan seksual. Bahkan diprediksi di masa depan Jepang bisa punah jika hal ini tidak segera teratasi. (Foto ilustrasi: Istimewa)
TOKYO -- Berbeda dengan Indonesia yang saat ini dipusingkan akibat ledakan pertumbuhan penduduk, dan sedang giat-giatnya menjalankan program nasional Keluarga Berencana (KB), Jepang justru sedang resah, pasalnya negara itu mengalami penurunan kelahiran penduduk.

Lambatnya pertumbuhan penduduk Jepang diakibatkan rendahnya minat warga negara itu melakukan hubungan seksual, dan dengan ditambah biaya hidup yang sangat tinggi, warga negara Jepang juga menghindari untuk segera memiliki anak.

Tak ayal, kasus ini membuat pemerintah Jepang kebingungan, karena dianggap dapat mengancam keamanan dan kekuatan negara itu di masa depan. 


Setidaknya sejumlah upaya, baik insentif dan tunjangan sudah ditawarkan kepada para penduduknya jika bersedia memiliki anak, namun hingga kini rayuan dari pemerintah Jepang itu belum juga menarik minat kaum muda Jepang untuk melakukan hubungan seks.

Bahkan Sebuah penelitian dari Tohoku University menyatakan bahwa pada 16 Agustus 3766, Jepang hanya akan dihuni 1 (satu) orang penduduk saja dan akan punah jika negara itu dari saat ini tidak juga segera mempercepat memproduksi anak.

Ketika hal itu terjadi gaya hidup dengan tingkat kesuburan yang rendah ini dapat menyebabkan menyusutnya atau menghilangnya generasi penerus.

Penelitian yang dilakukan oleh Hiroshi Yoshida dan Masahiro Ishigaki, ahli ekonomi dari Tohoku University itu, didasari oleh data kependudukan dan kesuburan dari tahun 2014 hingga 2015.

Pada April 2014, tercatat ada sekitar 16,32 juta anak-anak. Namun angka tersebut menurun pada 2015. Tercatat sebanyak 16,17 juta anak yang mengartikan populasi anak berkurang sebanyak 153 ribu jiwa.

Penduduk Jepang, yang saat ini didominasi warga usia tua. (foto: japantimes.co)
Dari hasil penelitian tersebut disimpulkan bahwa penduduk Jepang akan punah dalam beberapa abad ke depan, jika mereka tidak mengubah tren hidup tidak melakukan hubungan seksual.

Data penelitian memperkirakan ada sekitar 16 juta anak-anak yang kini hidup di Jepang. Angka itu makin mengkhawatirkan, karena terus menurun setiap tahunnya. Jika hal tersebut terus berlanjut, 1.750 tahun mendatang, maka Jepang akan punah.

Survei juga dilakukan oleh Japan Family Planning Association, yang mendapatkan hasil bahwa 49,3 persen responden berusia 18-49 tahun tidak melakukan hubungan seksual selama satu bulan belakangan.

Angka itu bertambah dari hasil penelitian serupa yang dilakukan 2 tahun yang lalu. Hampir 10 persen.

Dikutip dari Herald.ie, Senin (12/9/2016), Selama 25 tahun belakangan, penduduk Jepang dilaporkan mengalami penurunan tingkat kelahiran. Tidak banyak anak yang dilahirkan. Tapi jumlah warga senior atau usia tua semakin bertambah setiap tahunnya.

Tren mengerikan tidak memiliki anak itu kini telah mencapai batas mengkhawatirkan. Ditakutkan hal tersebut dapat memicu aktifnya 'bom waktu' demografis berupa atau berkurangnya warga usia produktif dibanding mereka yang tak produktif.

Rakyat Jepang terkenal mayoritas memiliki tingkat pendidikan yang baik, pekerja keras atau bahkan penggila kerja. Pria dan wanita Jepang cenderung tidak menginginkan hubungan intim.

Mereka lebih mendedikasikan waktu mereka untuk bekerja. Pria terkadang bekerja selama 80 jam dalam 1 minggu, mengakibatkan waktu dan tenaga mereka terkuras untuk melakukan seks.

Mayoritas penduduk Jepang lebih mengutamakan pekerjaannya dibandingkan menjalin sebuah keluarga. Sifat gila kerja tersebut membuat minat rakyat dalam menjalin hubungan seksual di negara itu semakin menurun.
Sementara kaum wanita Jepang menghadapi dilema antara mengejar karir mereka atau membangun sebuah keluarga. Seperti kebanyakan perempuan di negara industri, kaum hawa di Jepang menunda pernikahan atau menikah pada usia yang sangat muda.

Ketika mereka dihadapkan harus memilih pekerjaan atau keluarga, kebanyakan akan memilih karier.

Namun, uniknya saat ini para pemuda pria Jepang malah lebih cenderung memilih calon pasangannya dari negara lain, seperti Vietnam, Indonesia, atau Filipina. Hal ini menimbulkan keresahan tersendiri bagi pemerintah Jepang. (fg)

Sumber: Liputan6/Herald.ie

Tags

Shares ShareTweet
advertisement iklan

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.

Editor Picks