Load more

Pengamat Australia: Jokowi Sudah Hancur, Sihir Pencitraan Memudar

Shares ShareTweet
Pengamat dari Australia memberikan pandangannya mengenai fenomena pencitraan dan gaya kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Greg Sheridan menyatakan Jokowi sudah mulai memudar, buntut dari sikapnya yang sebagian besar mengkhianati janji politik yang disampaikannya kepada rakyat Indonesia saat pemilu 2014 lalu. (Foto: istimewa)
SYDNEY -- Saat ini, sepertinya bukan hanya warga Indonesia saja yang mengkritik gaya kepemimpinan Presiden Joko Widodo, namun kalangan asing juga menilai bagaimana dan seperti apa tokoh yang lahir dari kekuatan pencitraan media ini membuktikan janji-janji politik yang pernah disampaikannya saat persaingan memperebutkan kursi kepresidenan.

Adalah Gregory Paul Sheridan, seorang jurnalis The Australian yang banyak menulis urusan luar negeri. Salah satu fokus utama Greg adalah mempelajari konstelasi politik yang terjadi di negara terdekatnya, Indonesia. 


Greg telah menjadi editor urusan luar negeri di The Australian sejak 1992. Di Australia, Greg adalah seorang analis yang pemikirannya banyak dipakai oleh tokoh-tokoh politik di negara itu.

Bukan tanpa alasan, pemikiran dan analisis jurnalis yang juga menjadi pengajar di sejumlah universitas tersebut, memiliki akurasi dan ketepatan data yang tinggi dengan peristiwa yang terjadi, Sehingga Greg sering dimintai jadi pembicara di Australia. Lalu apa pendapat terbaru Greg Sheridan mengenai Indonesia dan Presiden Jokowi pada khususnya?

Tulisan opini Greg Sheridan ini ditayangkan website Australia theaustralian.com.au, pada 25 Juni 2015.

Tulisan opini penulis Greg Sheridan di media massa Australia.
Mari kita simak terjemahannya, bagaimana pandangan pengamat asing tentang Indonesia, dan para pembaca silahkan memberikan pandangannya sejauh apa opini Greg terbukti kebenarannya:

'Presiden Jokowi di Indonesia Menjadi Berantakan'

Hal yang mendesak, seperti yang kerap dikatakan, sering kali menjadi lawan dari hal yang penting. Benar bahwa kita sangat peduli dengan isu-isu luar negeri, beberapa dari isu tersebut adalah krisis yang sungguh-sungguh memerlukan perhatian khusus seperti terorisme di Timur Tengah dan di dalam negeri, ketegasan mengenai garis batas teritorial China di Laut China Selatan, dan kemungkinan suksesnya kesepakatan Barack Obama dan Iran tentang persenjataan nuklir.

Tapi, ada satu krisis yang mulai mendekati kita, yang mungkin belum terlalu kita perhatikan, Cukup mengejutkan, yaitu buyarnya kepemimpinan Jokowi dengan cepat. 


Pemilihan Jokowi, seperti telah diketahui secara luas dan dielu-elukan oleh dunia internasional. Akhirnya lahirlah era modern liberal Indonesia dari sebuah generasi baru.

Jokowi terkenal karena memiliki pasangan beretnis Cina dan melakukan banyak pekerjaan luar biasa dalam separuh waktu baktinya sebagai Gubernur Jakarta. Dia sangat anti korupsi dan pahlawan bagi masyarakat sipil.

Jokowi menang tipis saat berhadapan dengan Jenderal di era Suharto, Prabowo Subianto. Dan kita bernapas lega. Sayang, kita terlalu cepat bernapas lega. Kepemimpinan Jokowi sudah hancur dan tak dapat diharapkan lagi.

Ekonomi Indonesia stagnan. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama turun ke angka 4.7%. Banyak lembaga internasional memprediksi, total pertumbuhan tahun ini akan di bawah 5%.

Pertumbuhan ekonomi pada kepemimpinan SBY sekitar 6% dan pada era Suharto, mencapai 8%. Dengan angka pertumbuhan kurang dari 6%, Indonesia tidak mampu menyerap angkatan kerja baru yang siap memasuki dunia kerja setiap tahunnya.

Banyak ekonom berpikir, Indonesia membutuhkan angka pertumbuhan sekitar 8%. Karena di bawah pemerintahan SBY, Indonesia pernah sangat stabil dan bertumbuh relatif cepat, dipahami sebagai kisah sukses kebangkitan Indonesia. Jika tingkat pertumbuhan tetap di bawah 5% untuk beberapa kuartal ke depan, kisah yang terjadi adalah terhentinya perekonomian Indonesia.

Kebijakan ekonomi nasional di bawah kepimpinan Jokowi telah menjadi kebijakan ekonomi yang protektif dan menghancurkan pertumbuhan ekonomi secara serius.

Jokowi mengajarkan swasembada pangan, tetapi akibatnya adalah kenaikan harga yang akhirnya mendorong jutaan orang masuk jurang kemiskinan kembali, Jokowi berjanji untuk membangkitkan ekonomi melalui reformasi birokrasi, infrastruktur dan menciptakan jaringan transport maritim (tol laut).

Sayangnya, meskipun sudah banyak uang dialokasikan untuk infrastruktur, hampir tak ada pembangunan yang berarti di bidang ini. Jokowi tidak dapat berharap banyak dari anggota parlemen, dan celakanya, beberapa anggota kabinetnya adalah titipan dari Megawati Soekarnoputri. Hal ini membuat kinerja kabinet Jokowi menjadi mengecewakan.

Reshuffle yang dilakukan juga tak berarti banyak karena anggota kabinet berasal dari partai politik pendukung yang sulit untuk digeser keberadaannya. 


Belum lagi hancurnya ekonomi Indonesia akibat jatuhnya harga komoditas ekspor dan bila pertumbuhan ekonomi jatuh ke angka di bawah 4.5% untuk periode yang lebih lama, Jokowi berada pada persoalan tanpa ada harapan untuk bisa diselesaikan.

Seandainya ekonomi tidak menjadi hal yang terburuk, Jokowi telah menunjukkan bahwa dirinya tidak cukup cakap untuk menjalankan manajemen politik. Walau tak ada satu konsekuensi yang harus dibayar Jokowi untuk kegagalannya ini, satu-satunya aset politik Jokowi, yaitu popularitasnya, dipastikan akan merosot.

Sejak kejatuhan rezim Suharto, muncul dua kekuatan yang memperoleh kredibilitas tinggi dari rakyat. Yang pertama adalah media karena aktif memberitakan korupsi dan yang kedua adalah KPK, lembaga anti korupsi yang memiliki kekuatan penyelidikan melalui penyadapan. Lembaga ini telah menghukum orang kuat dan membuat musuh yang kuat pula.

Lembaga ini membuat marah parlemen, polisi dan partai politik, semua yang pernah diporakporandakan oleh KPK. SBY mampu membuat kompromi di pemerintahan dan selalu melindungi KPK, di mana lembaga ini selalu mendapatkan dukungan dari rakyat. di bawah Jokowi, Polisi yang sangat dekat dengan Megawati, justru justru hampir berperang dengan KPK.

Figur senior di KPK masuk tahanan atau menghadapi dakwaan pengadilan, yang mana banyak rakyat Indonesia menilai, kasus mereka dibuat-buat. Dengan demikian ada legalitas, sebelum parlemen mengurangi kekuatan KPK.

Jokowi, tidak seperti SBY, tidak bisa melindungi KPK. Jokowi, di bawah tekanan Megawati, bahkan menunjuk seorang yang diduga KPK bermasalah secara hukum, menjadi calon Kapolri.

Karena kemarahan publik pencalonannya akhirnya ditarik. Tapi ia kemudian diangkat menjadi wakil kepala polisi tanpa Jokowi diberitahu, dan figur ini sekarang memicu ketegangan di kepolisian.

Masyarakat sipil yang mendukung Jokowi dengan begitu kuat, sekarang demoralisasi dan lumpuh dan sebagian dari mereka dipenjara juga. Semua ini tidak terlihat menjanjikan untuk masa depan dan dapat menyebabkan segala macam ketidakstabilan baru. Tentara dan polisi secara tradisional telah berselisih.

Polisi kini menegaskan diri mereka sendiri, dengan dukungan Mega. Dengan beberapa janji baru-baru ini, Jokowi tampaknya akan condong ke arah tentara untuk dukungan politik. Prospek pertikaian tentara vs polisi di masa depan adalah sangat nyata.

Jokowi telah terisolasi. Salah satu bagian dari pemerintahannya mengumpulkan sejumlah investasi asing, namun banyak bagian dari pemerintahannya membuat investasi asing lebih sudah dan sulit.

Jokowi hampir tidak memiliki minat dalam kebijakan luar negeri di luar retorika nasionalis yang cukup kasar. Menteri Luar Negeri-nya, Retno Marsudi, tidak memiliki cut-through dengan Jokowi dan tidak efektif.

Dia adalah orang yang ditunjuk Mega. Mega terkenal untuk menunjuk dua jenis orang – tua, loyalis yang sepenuhnya mengabdikan diri untuk Mega, atau orang-orang yang sangat junior yang begitu heran dengan penunjukkan mereka, sehingga mereka akan selamanya berterima kasih kepada Mega dan setia sebagai konsekuensinya.

Marsudi dalam kategori kedua. Banyak elit Jakarta sudah bertanya-tanya apakah Jokowi bisa bertahan sebagai Presiden melampaui enam bulan lagi. Sekarang aturan untuk melengserkan (impeach) presiden lebih sulit dan lawan-lawan Jokowi menyadari, jika Jokowi di-impeach, maka ia akan digantikan oleh Jusuf Kalla. yang memiliki karakter lebih kuat.

Persoalan pemerintah Australia dengan pemerintahan Jokowi mencerminkan kesulitan negara lain untuk menjalin hubungan dengan pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi.

Seorang Presiden yang gagal dan lemah adalah salah satu dari beberapa skenario mimpi buruk yang ditawarkan Indonesia kepada dunia.(Greg Sheridan).

*Terjemahan bebas dari artikel: 'Indonesia’s Jokowi presidency is becoming a desperate mess,' yang dimuat di Theaustralian.com.au, 25 Juni 2015.

Sumber: Theaustralian.com.au

Tags

Shares ShareTweet
advertisement iklan

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.

Editor Picks