Load more

Lakukan Hasil Brexit, Rusia Tantang Sistem Demokrasi Inggris

Shares ShareTweet
Hasil referendum yang dilakukan pemerintah Inggris untuk menentukan apakah Britania Raya tetap berada dalam organisasi Uni Eropa atau keluar, menghasilkan keputusan yang mengejutkan. Mayoritas suara menghendaki Inggris segera hengkang dari Uni Eropa, namun kini muncul gerakan dari sebagian warga Inggris yang menghendaki untuk tetap berada dalam Uni Eropa, dan meminta agar hasil referendum Brexit tidak dilaksanakan. (Foto: Istimewa)
“Kita lihat saja nanti bagaimana mereka menjalankan prinsip demokrasinya,”
MOSKOW  -- Referendum yang dilakukan rakyat Inggris untuk menentukan apakah negara tersebut akan tetap bergabung dalam persekutuan ekonomi Uni Eropa atau keluar bukan hanya menggemparkan dunia, tetapi juga menjadi perdebatan di sejumlah negara. 

Referendum yang biasa disebut Brexit (Britain Exit) tersebut, menghasilkan suara mayoritas rakyat negara Inggris ingin agar Britania Raya keluar dari Uni Eropa.

Seperti diketahui, 52 persen warga Inggris Raya memilih untuk keluar dari UE pada referendum yang dilaksanakan Kamis 23 Juni 2016. 


Namun keputusan ini mendapat pertentangan di sebagian rakyat Inggris yang ingin agar tetap bergabung dalam Uni Eropa. Kini muncul gerakan yang menuntut untuk membatalkan hasil referendum tersebut.

Pergolakan yang terjadi di negara ratu Elisabeth itu juga mendapatkan perhatian khusus oleh pemimpin tertinggi Federasi Rusia. Presiden Vladimir Putin menantang Inggris untuk menjalankan mandat demokrasi itu, yakni hasil referendum yang memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa.


Presiden Putin mengatakan, Inggris selama ini selalu mengagung-agungkan sebagai negara kampiun demokrasi, tetapi kini berhasil tidak Inggris membuktikannya dengan mengikuti kehendak mayoritas rakyat Inggris yang ingin keluar dari Uni Eropa?

“Kita lihat saja nanti bagaimana mereka menjalankan prinsip demokrasinya,” ujar Putin saat bertemu para Dubes dan delegasi permanen Rusia di Kementerian Luar Negeri Rusia di Moskow pada Kamis 30 Juni 2016, seperti dikutip dari Telegraph, Sabtu (2/7/2016).

Pernyataan ini datang hampir sepekan setelah hasil referendum diumumkan. Sebelumnya, dalam kampanye ‘Remain’ Perdana Menteri Inggris David Cameron menyatakan, keluarnya Inggris dari UE hanya akan menyenangkan Rusia.

Presiden Rusia Vladimir Putin saat bertemu Perdana Menteri Inggris David Cameron. (Foto: Istimewa)
Sebab, negara eks Soviet itu berharap Eropa terpecah dan melemah. Pernyataan itu dengan lantang dibantah oleh Putin. Menurutnya, kemenangan Brexit sama sekali tidak ada unsur campur tangan Rusia di dalamnya. 

Justru itu menandakan bahwa rakyat Britania Raya memiliki ketidaksukaan yang besar pada kebijakan migrasi dan keamanan yang disepakati bersama 27 negara Benua Biru, serta birokrasi UE. 

“Itu sepenuhnya pilihan rakyat Britania Raya sendiri. Kremlin sama sekali tidak mengintervensi. Jelas di sini bahwa dampak trauma dari hasil referendum baru akan terasa dalam jangka panjang,” tambahnya.

AS: Inggris Tak Harus Melakukan Brexit

Sementara Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) John Kerry mengatakan bahwa keluarnya Inggris dari Uni Eropa (UE) bisa saja tidak pernah terjadi. 


Pernyataan itu dikemukakan Kerry usai berbicara dengan Perdana Menteri Inggris David Cameron. Suksesor Hillary Clinton itu mengatakan, London tidak dalam posisi terburu-buru untuk keluar.

Kerry juga mengatakan Cameron merasa tidak berdaya untuk menegosiasikan keluarnya Inggris Raya. Kerry sendiri dalam kapasitasnya sebagai Menlu AS mengaku tidak ingin sekutunya itu keluar dari UE. 

Ini adalah perceraian yang rumit,” ujar Kerry di Washington, AS, seperti dimuat Channel News Asia, Rabu (29/6/2016).

“Sebagai Menlu saya tidak ingin melempar mereka keluar UE hari ini. Itu akan menjadi sebuah kesalahan. Namun, ada beberapa cara untuk membuat mereka tetap berada di UE,” papar Kerry, saat mengunjungi Cameron di London pada Senin 27 Juni 2016.

Seorang warga Inggris membentangkan sebuah spanduk mendukung keluarnya Inggris dari Uni Eropa. (Foto: Istimewa)
Washington selama ini menjadi pendukung utama Inggris dalam peran mereka di UE. Pemimpin-pemimpin AS terkejut dengan hasil referendum ketika sebagian besar warga Inggris Raya memilih untuk keluar. 

Pejabat-pejabat AS kini meminta sebuah debat sehat antara London dan Brussels, (kantor pusat UE) untuk menghasilkan kesepakatan yang dapat membuat keduanya tetap dekat.

Sumber: Merdeka

Tags

Shares ShareTweet
advertisement iklan

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.

Editor Picks