Load more

Rekam Fakta Kedekatan Rezim Jokowi dengan Kaum LGBT

Shares ShareTweet
Para kaum LGBT pendukung Joko Widodo saat pemilu presiden 2014. (Foto: Istimewa)
“Pak Jokowi sudah menemui teman-teman waria di Jakarta. Saat jadi Wali Kota Solo, saya dengar beliau juga sering mendatangi tempat kaum waria, gay dan lesbian,”
JAKARTA -- Rakyat Indonesia sudah beberapa minggu ini dihebohkan dengan bahasa atau istilah baru yaitu LGBT atau Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender, karena dalam bahasa awamnya istilah tersebut masyarakat lebih mengenal dengan kata "Waria" atau "Bencong".

Kehebohan semakin menjadi-jadi saat LINE, salah satu media sosial terkenal di negara ini menjual dan mempublish ikon atau simbol-simbol kaum homoseksual dan lesbian di fiturnya. Walaupun kemudian dihapus kembali setelah mendapat kecaman dari berbagai kalangan.


Kasus ini memang menjadi sorotan setelah para penggiat LGBT makin gencar mengkampanyekan kelompok mereka. Penolakanpun terus berdatangan, salah satunya datang dari ormas islam terbesar Nahdlatul Ulama.

Bencong atau waria selama ini selalu diidentikkan penyuka sesama jenis oleh masyarakat, tetapi perkembangan selanjutnya penyuka sesama jenis tidak hanya dari kalangan waria.

Selama ini penyuka sesama jenis seperti homoseksual atau lesbian melakukan aktifitasnya dengan sembunyi-sembunyi, karena mayoritas masyarakat Indonesia sangat membenci kaum LGBT, selain bertentangan dengan norma agama, LGBT juga dianggap menodai budaya ketimuran Indonesia.


Tetapi kenapa kini kaum LGBT seperti para homoseksual, lesbian atau biseksual/Waria semakin berani menampakkan diri mereka kepada khalayak umum? Itulah pertanyaan yang banyak dilontarkan oleh masyarakat, yang umumnya menganggap LGBT sebagai virus penyakit yang akan merusak kaum muda atau anak-anak mereka.

Untuk menjawab pertanyan tersebut berikut kita lihat fakta-fakta yang menjelaskan bahwa Presiden Joko Widodo atau rezimnya mendukung keberadaan kaum LGBT. Mulai dari tidak adanya ketegasan melarang penyebaran penyakit masyarakat tersebut, hingga memberikan jawaban yang "ambigu" demi untuk meredam amarah rakyat.

Pendukung Jokowi saat pemilu dari kaum LGBT
LGBT selain di negara-negara Barat yang menganut "kebebasan absolut" seperti beberapa negara Uni Eropa dan Amerika Serikat, umumnya mayoritas negara di dunia melarang, mengharamkan, dan menentang keberadaan kaum tersebut, karena menganggapnya sebagai penyakit masyarakat, menodai ajaran agama dan lain-lain.

Bahkan di Amerika Serikat pun tidak semua negara bagiannya mendukung kaum LGBT. Bahkan negara Gambia, salah satu negara di Afrika akan "menggorok" leher para homoseksual atau kaum LGBT jika datang ke negaranya.


Ini sangat berbeda dan bertolak belakang dengan di Indonesia apalagi semenjak kepemimpinan Presiden Joko Widodo, kaum penyuka sesama jenis justru semakin marak dan semakin berani memperlihatkan aksinya di depan khalayak ramai.

Apa motivasi mereka? apa yang membuat kaum LGBT semakin berani menampakkan aktifitas mereka di Indonesia saat ini? Berikut beberapa rekaman fakta menjawab hal tersebut , yang diantaranya juga didukung jawaban jajaran Kabinet Joko Widodo

1). Menteri Yohana Yembise


"Menolak keras LGBT. Kita melihat UU yang berlaku sementara UU diterapkan. Hal-hal di luar UU yang datang itu pengaruh dari luar," ungkap Yohana usai menghadiri acara deklarasi mengakhiri kekerasan perempuan dan anak di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Minggu (14/2/2016).

Namun, ia juga mengatakan pelaku LGBT berhak untuk mendapatkan perlakuan yang sama dengan yang lainnya. "Mereka berhak berobat, berhak untuk hidup bersama yang lain. Bukan untuk mendiskreditkan," tutup Yohana.


2). Menkopolhukam Luhut Binsar Panjaitan 

"Apapun dia, apapun kerja dia, dia (LGBT) masih warga negara Indonesia, punya hak dilindungi," kata Luhut di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta seperti dikutip Antara Jumat (12/2/2016).

Para pelajar dan mahasiswa berunjuk rasa menolak keberadaan kaum LGBT di Indonesia. (Foto: Istimewa)
Luhut Binsar Pandjaitan mengaku bersyukur kasus LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) tidak terjadi orang-orang terdekatnya.

“Saya bersyukur itu tidak terjadi pada keluarga saya. Tapi, saya juga tidak bisa jamin keluarga saya ke depan tidak akan seperti itu (LGBT). Apa pun dia, apa pun kerja dia, dia (LGBT) masih warga negara Indonesia, punya hak dilindungi,” kata Luhut.


Beberapa Fakta Berita Kaum LGBT Dukung Jokowi:

1). Didukung Kaum Homo, Adian Husaini: Ingat Aturan Allah Pak Haji Jokowi!

Pendiri Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Adian Husaini, mengingatkan calon presiden Joko Widodo agar mengingat aturan Allah.

Pernyataan Adian Husaini itu terkait semakin massifnya dukungan kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender kepada Joko Widodo.


 “Dukung Jokowi, kaum homo harapkan persamaan hak. Timses Jokowi beri harapan. Ingat aturan Allah, Pak Haji Jokowi!” tulis Adian di akun Twitter @husainiadian.

Diberitakan sebelumnya, Dewan Penasehat Gaya Nusantara, Dede Utomo, berharap jika Jokowi terpilih menjadi presiden, hak kaum gay, lesbian dan waria serta minoritas bisa dijamin kesetaraannya dengan warga negara Indonesia lainnya, baik hak memperoleh pekerjaan dan hak-hak lainnya.

“Kami memang belum pernah bertemu langsung dengan Pak Jokowi dan Pak JK, tapi Pak Jokowi sudah menemui teman-teman waria di Jakarta. Saat jadi Wali Kota Solo, saya dengar beliau juga sering mendatangi tempat kaum waria, gay dan lesbian,” kata Dede Utomo, pada deklarasi dukungan untuk Jokowi-JK di Surabaya (25/06).

Dalam kesempatan yang sama, tim sukses Jokowi-JK, Eva Kusuma Sundari mengatakan, pihaknya akan melakukan pendekatan-pendekatan kepada kelompok minoritas, korban diskriminasi kebijakan-kebijakan pemerintah. Diskriminasi kelompok minoritas itu, seperti kelompok islam Syiah, Ahmadiyah, dan kelompok minoritas lain, termasuk komunitas waria dan gay.

2). Satu Visi, Gay dan LGBT Surabaya Dukung Jokowi

Komunitas gay (penganut homoseksual) Surabaya yang tergabung dalam perkumpulan GAYa Nusantara akhirnya memberikan dukungannya kepada pasangan capres-cawapres Jokowi-Jusuf Kalla.

Aksi salah satu artis nasional pendukung LGBT. (Foto: Istimewa)
“Kami melihat hanya Jokowi-JK yang mencanangkan hal tersebut dalam visi misinya. Yang mana juga sejalan dengan visi misi kami,” demikian salah satu pernyataan resmi GAYa Nusantara Rabu, (25/06/2014).

Menurut organisasi yang menaungi kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) ini, alasan mendukung Jokowi karenakan pasangan tersebut memiliki visi dan misi yang sama dengan GAYa Nusantara, terwujudnya tatanan sosial yang menerima dan menghargai hak asasi manusia keberagamaan seks.

“Hanya Jokowi-JK seperti itu pada visi misinya,” katanya.

Pembina GAYa Nusantara Dede Utomo menambahkan bahwa hanya Jokowi-JK yang paling mungkin untuk menghargai kaum nya. Meski Jokowi kata Dede belum mengatakannya secara eksplesit akan tetapi Jokowi telah mengatakan bahwa kaum minoritas telah disebutkan untuk diperhatikan. Ia menyebut, pengalaman di Solo Jokowi sangat dekat dengan komunitas gay dan lesbian.

“Pak Jokowi sudah menemui teman-teman waria di Jakarta. Saat jadi Walikota Solo, saya dengar beliau juga sering mendatangi tempat kaum waria, gay dan lesbian,” tuturnya kepada wartawan usai acara “Deklarasi Aliansi Perempuan Surabaya untuk Revolusi Mental’ yang digelar di Katholik Center Jalan Bengawan 3 Surabaya, Rabu (25/6/2014) petang.


Dede yakin, jika Jokowi terpilih, hak kaum gay, lesbian dan waria serta minoritas lainnya bisa dijamin kesetaraannya dengan warga negara Indonesia lainnya.

Deklarasi dukungan kepada Jokowi-JK dilakukan di sela diskusi Aliansi Perempuan Surabaya untuk Revolusi Mental ini dihadiri Jurkamnas Jokowi-JK Eva Kusuma Sundari, Dewan Penasihat Gaya Nusantara Dede Utomo, dan mantan aktivis PRD Dhita Indah Sari.

Sementara juru bicara PDI-P, Eva Kusuma Sundari mengatakan, pihaknya akan melakukan pendekatan pada Syiah, Ahmadiyah, termasuk komunitas waria dan gay.

3). Aktivis LGBT Pendukung Jokowi Sebarkan Fitnah PNS Kementerian tak Dukung Nawa Cita

Aktivisi Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) Hartoyo Medan yang juga pendukung Presiden Jokowi menuding Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak mendukung Nawa Cita.

Demonstrasi masyarakat dari berbagai elemen menolak kaum LGBT. (Foto: Istimewa)
“Sekarang staf-satf di banyak kementerian mulai panik dengan gerakan identitas LGBT. Semua hal yang berkaitan dgan LGBT langsung tolak, tapi ketika diminta secara formal penolakannya, tak mau buat surat penolakan tersebut,” ungkap Hartoyo di akun Facebook-nya beberapa waktu lalu.

Hartoyo juga menuding, para PNS pemerintah yang menolak identitas LGBT bukan pendukung loyal Jokowi menjadi presiden, bahkan mungkin pendukung calon presiden satu lagi.

“Dan saya duga, Jadi patut diduga mereka adalah pihak-pihak menghambat mimpi Nawa cita terwujud,” ungkap Hartoyo.

Hartoyo juga menilai PNS yang menolak LGBT itu menghambat pemerintahan Jokowi.

“Kalau dipikir-pikir, betapa kurang ajarnya staf-staf itu. Makan dan hidup dari ideologi politik pemerintahan Jokowi, tapi mereka pihak-pihak yang menghambat mimpi Jokowi menerapkan pemerintah yang adil pada setiap warga,” pungkas Hartoyo

4). Barisan Gay, Lesbian dan Bencong Dukung Jokowi

Ketua Gaya Nusantara Dede Oetomo menyatakan dukungannya kepada pasangan Jokowi-Jusuf Kalla (JK), karena pihak tim pemenangan Jokowi-JK, seperti Eva Kusuma Sundari dan Dita Indah Sari mau bertemu kelompok minoritas.

“Sedangkan dari kubu Pak Prabowo belum ada yang menemui kami. Kami memang belum pernah bertemu langsung dengan Pak Jokowi dan Pak JK, tapi Pak Jokowi sudah menemui teman-teman waria di Jakarta. Saat jadi Walikota Solo, saya dengar beliau juga sering mendatangi tempat kaum waria, gay dan lesbian,” tuturnya kepada wartawan usai ‘Diskusi dan Deklarasi Aliansi Perempuan Surabaya untuk Revolusi Mental’ yang digelar di Katholik Center Jalan Bengawan Surabaya, Rabu 25 Juni 2014.


Ketua Gaya Nusantara Dede Oetomo dan Eva Kusuma Sundari. (Foto: Istimewa)
Dede berharap jika Jokowi terpilih, hak kaum gay, lesbian dan waria serta minoritas lainnya bisa dijamin kesetaraannya dengan warga negara Indonesia lainnya. Ini seperti contoh, sulitnya waria bekerja di tempat-tempat tertentu. “Waria jadi guru dikeluarkan, jadi tentara nggak dianggap. Kami ingin diskriminasi itu dihilangkan saat Jokowi terpilih nanti,” tegasnya.

Dede yakin ada indikasi pengakuan dan penyetaraan para kaum homoseksual, lesbian dan waria jika Jokowi terpilih. “Kalau di kubu seberang (Prabowo-Hatta, red) banyak bergabung partai-partai yang 10 tahun terakhir ini terlihat anti penyetaraan. Menteri Agama Suryadharma Ali dari PPP berkali-kali pernah bilang tidak mungkin ada perkawinan sejenis dilakukan di Indonesia,” tukasnya.

Hadir dalam acara diskusi bertema ‘Menjadi Pemilih Cerdas menuju Kesetaraan dan Kesejahteraan Perempuan’ yang sekaligus deklarasi dukungan itu di antaranya, anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Eva Kusuma Sundari, Dhita Indah Sari (mantan aktivis buruh/staf khusus Menakertrans), dan Dede Oetomo dari kelompok Gay.

Dalam diskusi dan deklarasi itu, menghasilkan empat poin, yaitu mendukung Jokowi – JK secara kritis untuk menjadi Capres-Cawapres yang berspektif gender dan berpihak pada kaum perempuan dan kelompok minoritas rentan lainnya. Kemudian mendukung Revolusi Mental demi menuju kesetaraan dan kesejahteraan perempuan serta kelompok minoritas rentan lainnya.

Poin yang ketiga, menyerukan kepada semua pemilih untuk waspada kecurangan-kecurangan dalam proses pemilu, dan yang terakhir menghargai perbedaan dalam memeluk agama dan keyakinan serta segala macam bentuk keberagaman.

“Kami akan melakukan pendekatan-pendekatan kepada kelompok minoritas, melalui policy-policy. Diskriminasi itu kan kekerasan yang dilakukan melalui kebijakan-kebijakan. Kami tidak mau menyebut apa, kelompoknya apa, tapi semua mempunyai hak kewarganegaraan,” papar Eva Kusuma di sela acara.

Diskriminasi kelompok minoritas itu, Eva mencontohkan, kelompok Syiah, Ahmadiyah, dan kelompok minoritas lain, termasuk komunitas Waria, kesulitan mendapatkan identitas (KTP).

Dari fakta-fakta di atas, dengan ketidaktegasan Jokowi dalam menangani maraknya penyakit masyarakat tersebut, apakah sebagai upaya menjaga suara para pendukungnya dari golongan LGBT?

*Dari berbagai sumber

Tags

Shares ShareTweet
advertisement iklan

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.

Editor Picks