Load more

Panama Papers, Skandal Keuangan Yang Mengguncang Dunia

Shares ShareTweet
Skandal keuangan 'Panama Papers' mengguncang sejumlah negara di dunia. Skandal keuangan ini diyakini akan menciptakan gerakan revolusi dan perubahan di sejumlah negara, dengan tercantumnya nama-nama pemimpin sejumlah negara di dunia dalam laporan tersebut (ilutrasi)
"Sejauh mana road map, apalagi ini ada Panama Papers. Jadi kita ingin tahu berapa perkiraan uang yang masuk ke dalam negeri,
Gerhana85.com - Dunia saat ini sedang diguncang skandal keuangan salah satu terbesar dalam sejarah. Skandal yang dijuluki 'Panama Papers' tersebut diyakini akan menciptakan gerakan perubahan di sejumlah negara di dunia, akibat tercantumnya nama-nama pemimpin sejumlah negara di dalam laporan skandal tersebut.

Lalu apa sebenarnya skandal Panama Papers tersebut? Siapa saja yang diduga terlibat? Apa akibatnya? Siapa dalang dari skandal yang menghebohkan ini?, berikut beberapa rekaman peristiwanya.

Asal Muasal Panama Papers

Skandal ini terjadi akibat bocornya jutaan dokumen keuangan rahasia milik sebuah firma hukum Panama yang menyingkapkan perilaku tidak jujur orang-orang berkuasa dan kaya raya dalam menyembunyikan hartanya dari kejaran pajak di negeri asalnya, dan bahkan menjadi cara orang-orang dunia hitam menyembunyikan harta jarahannya.
Kantor pusat firma hukum Panama, Mossack Fonseca (ilustrasi)
Nama firma hukum Panama yang mendadak terkenal ke seluruh penjuru dunia itu adalah Mossack Fonseca. Firma hukum ini didirikan pada 1977 oleh Jurgen Mossack dan Ramon Fonseca, dan dinamai Mossack-Fonseca.

Jurgen Mossack adalah imigran Jerman yang ayahandanya mengungsi ke Panama demi kehidupan keluarganya setelah menjadi perwira pasukan elite Nazi Jerman, Waffen-SS, dalam Perang Dunia Kedua. Sedangkan Ramon Fonseca adalah novelis peraih anugerah sastra yang beberapa tahun belakangan pernah menjadi penasihat presiden Panama. 

Dia meninggalkan jabatan penasihat presiden Panama setelah Maret silam perusahaannya, Mossack Fonseca, dikaitkan dengan skandal Brasil. Dan dari skandal Brasil itulah ICIJ (konsorsium wartawan investigatif internasional) mulai menyelidiki sepak terjang firma hukum Panama itu. 

Dari markas besarnya di Panama, Mossack Fonseca membiakkan perusahaan-perusahaan anonim di Panama, di Kepulauan Virgin milik Inggris, dan di tempat-tempat lain yang menjadi surga kerahasiaan keuangan. 

Firma hukum ini bekerjasama dengan bank-bank besar dan firma-firma hukum di negara-negara seperti Belanda, Meksiko, Amerika Serikat dan Swiss, untuk membantu kliennya memindahkan uang atau menghindari tagihan pajak di dalam negeri.

Analisis ICIJ terhadap berbagai dokumen di Panama Papers mendapati bahwa sekitar 500 bank bersama anak perusahaan dan cabang-cabangnya telah bekerjasama dengan Mossack Fonseca sejak 1970-an demi membantu klien-kliennya mengatur perusahaan-perusahaan offshore miliknya. 

UBS mendirikan lebih dari 1.100 perusahaan offshore berkat bantuan Mossack Fonseca, sedangkan HSBC dan afiliasi-afiliasinya menciptakan lebih dari 2.300, kata dokumen bocor dalam skandal Panama Papers itu. 
Jurgen Mossack dan Ramon Fonseca, pendiri firma Mossack-Fonseca (ilustrasi)

Keseluruhan, Mossack Fonseca bekerjasama dengan lebih dari 14.000 bank, firma hukum, law firms, perusahaan pribadi dan individu demi membantu mendirikan perusahaan, yayasan dan serikat usaha untuk para penggunanya itu. 

Sistem perusahaan offshore menggantungkan diri kepada bentangan luas tingkat global industri perbankan, pengacara, dan akuntan. Dan semua ini bekerja beriringan demi melindungi rahasia klien-klien mereka. 

Para ahli kerahasiaan ini menggunakan perusahaan-perusahaan tak dikenal, yayasan dan entitas hukum lainnya untuk menciptakan struktur rumit yang bisa digunakan untuk mengaburkan asal dari uang-uang panas. 

Demi melindungi Feberion Inc., perusahaan abal-abal yang dikaitkan dengan pencurian emas terkenal di Inggris yang biasa disebut perampokan Brink’s-Mat, Mossack Fonseca memanfaatkan sebuah perusahaan yang berbasis di Panama bernama Chartered Management Company. 

Pengendali Chartered Management adalah Gilbert R.J. Straub, ekspatriat asal AS.

Keterlibatan George Soros Dan CIA

Konglomerat Yahudi asal Amerika Serikat (AS), Gorge Soros menjadi nama terbaru yang dikaitkan dengan Panama Papers. Dia diisukan sebagai sosok di belakang kebocoran dokumen terbesar dalam sejarah itu. 

Hubungan antara Soros dengan Panama Papers ditarik dari konsorsium jurnalis yang mengulas dan mengumumkan dokumen Panama Papers kepada publik, yaitu International Consortium of Investigative Journalist (ICIJ).
George Soros pendiri Open Society Foundation, (ilustrasi)
ICIJ diketahui menerima sumbangan dana dari Open Society Foundation, sebuah jaringan hibah internasional yang berbasis di New York, AS. Soros yang merupakan dalang terjadinya krisis ekonomi di Indonesia pada 1998 merupakan ketua sekaligus pendiri Open Society Foundation. 

Bukan hanya Open Society Foundation, ICIJ juga mencantumkan nama Ford Foundation, sebuah lembaga amal yang sejak lama dicurigai memiliki hubungan dengan lembaga intelijen AS, CIA sebagai donatur mereka. Keterkaitan kedua yayasan ini menimbulkan kecurigaan akan netralitas laporan mengenai Panama Papers yang dilakukan oleh ICIJ. 

Pertanyaan ini semakin mengemuka setelah diketahui dari 11,5 juta dokumen yang mereka peroleh hanya ada segelintir warga AS yang muncul dalam daftar, dan sorotan yang begitu besar terhadap tokoh-tokoh yang dianggap sebagai ‘musuh’ bagi Negeri Paman Sam seperti Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Suriah Bashar al Assad.

Mengaku Korban Peretasan

Pengacara Panama mengatakan bahwa firma hukum Mossack Fonseca adalah korban peretasan dari luar perusahaan. Firma hukumnya ini telah mengajukan gugatan di pengadilan Panama. 

Pengacara yang juga pendiri Mossack Fonseca, Ramon Fonseca, mengatakan firma hukumnya yang berspesialisasi diri mendirikan perusahaan-perusahaan berbasis di luar negeri (perusahaan offshore), tidak melanggar hukum dan semua operasinya legal. 
Sejumlah nama-nama pemimpin negara-negara kuat di dunia yang diduga tersangkut skandal Panama Papers. Dugaan keterlibatan Amerika Serikat terutama CIA semakin menguat karena nama-nama yang tercantum dalam skandal Panama Papers umumnya adalah pemimpin negara yang menjadi rival atau musuh dari Amerika Serikat (ilustrasi)
Dalam wawancara dengan Reuters, dia menegaskan bahwa firma hukumnya tidak pernah menghancurkan dokumen atau membantu orang menghindari pajak atau pencucian uang. 

"Kami mengesampingkan kerjaan orang dalam. Ini bukan bocoran. Ini peretasan," kata Fonseca (63) di markas besarnya di pusat keuangan Panama City. "Kami punya sebuah teori dan kami tengah mengikutinya," kata dia tanpa mengelaborasinya.

Dia khawatir pesaing bisnisnya menjadi lebih kuat setelah skandal dokumen bocor ini.

Korban Skandal Panama Papers

Perdana Menteri Islandia Sigmundur David Gunnlaugsson menjadi korban pertama "Panama Papers," dan menyatakan mundur dari jabatannya. Selain itu Presiden Ukraina Petro Poroshenko juga dalam sorotan badan hukum negara tersebut akibat kebocoran skandal ini.  

Otoritas fiskal Ukraina akan mempelajari dokumen-dokumen dalam "Panama Papers" yang berkaitan dengan asset-asset luar negeri President Poroshenko, kata ketua otoritas fiskal Roman Nasirov seperti dikutip Reuters.
Pemimpin negara di dunia lainnya yang diduga terlibat dalam skandal Panama Papers. Korban pertama terjadi dengan turunnya Perdana Menteri Islandia Sigmundur David Gunnlaugsson dari jabatannya.
Dokumen juga menyebut Presiden Uni Emirat Arab Sheikh Khalifa bin Zayed Al-Nahyan memiliki properti di London senilai USD 1,7 miliar. Kemudian, Mariam Safdar, putri Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif, pemilik dua perusahaan offshore companies mempunyai dua flat mewah di kawasan eksklusif Park Lane.

Panama Papers Dan Hubungannya Dengan Indonesia

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan pemerintah akan memanfaatkan "Panama Papers" sebagai referensi tambahan dalam usaha meraup pendapatan negara dari pengampunan pajak ("tax amnesty"). 

"Panama Papers akan dijadikan referensi tambahan. Memang banyak individu dan perusahaan yang menyimpan uangnya di perusahaan fiktif di Panama, tetapi berinvestasi di Indonesia," ujar Bambang saat mengisi acara "Sudut Istana" di TVRI, Jakarta, Rabu malam.

Sementara itu terkait "tax amnesty", pemerintah saat ini masih terus berkomunikasi dengan DPR agar pembahasan RUU Pengampunan Pajak segera bisa diselesaikan dan dapat dimasukkan dalam APBN Perubahan.

Sementara itu, Rapat Badan Musyawarah (Bamus) DPR sepakat menunda RUU Pengampunan Pajak atau Tax Amnesty untuk diparipurnakan. Wakil Ketua DPR Fadli Zon mengatakan penundaan ini lebih terkait menunggu konsultasi bersama Pemerintah.
Warga Islandia melakukan demonstrasi menuntut mundurnya Perdana Menteri mereka yang diduga terlibat dalam skandal Panama Papers, mungkinkah hal ini juga bisa terjadi di Indonesia? (ilustrasi)
Fadli mengatakan penundaan ini bertujuan lebih memperjelas maksud UU nantinya terlebih oleh munculnya skandal pencucian uang Panama Papers yang menghebohkan dunia dan tanah air. "Sejauh mana road map, apalagi ini ada Panama Papers. Jadi kita ingin tahu berapa perkiraan uang yang masuk ke dalam negeri, terang Fadli di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (6/4).

Setidaknya ada sekitar 800 nama pebisnis dan politikus Indonesia termasuk dalam daftar klien Mossack Fonseca. Mereka masuk dalam daftar tersebut karena pernah menyewa Mossack Fonseca untuk mendirikan perusahaan di luar negeri atau "offshore".

Negara lain yang terguncang

Selain menggungcang Islandia, Ukraina, Rusia, Pakistan dan sejumlah negara lainnya, Inggris Raya juga tak luput dari hantaman skandal ini. London, ibu kota Inggris, disebut memiliki peran vital dalam jejaring tax haven atau wilayah yang menjadi surga bagi para pengemplang pajak di dunia.
Skandal Panama Papers tidak hanya menurut para politisi dunia, tetapi juga menimpa para artis, olahragawan dan tokoh dunia lainnya. (ilustrasi)
Panama Papers mengungkap sebanyak 32.682 perantara Mossack Fonseca berada di Inggris. Terbesar ketiga dari total perantara yang dimiliki firma hukum tersebut. 

Sekitar 310 ribu perusahaan berada di tax haven memiliki properti di Inggris senilai USD 240 miliar. Sekitar 10 persen diantaranya terkait Mossack Fonseca. 

Sementara Prancis bersumpah untuk memasukkan Panama dalam daftar hitam jurisdiksi pajak yang tidak kooperatif. Sebaliknya, Alvaro Aleman, kepala staf Presiden Panama Juan Carlos Varela, menegaskan akan mengambil langkah yang sama kepada Prancis atau negara lain yang mengikuti jejak Prancis.

Sumber: Gerhana85.com/Antara/Merdeka/Okezone/Reuters

Tags

Shares ShareTweet
advertisement iklan

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.

Editor Picks