Load more

Amerika Serikat gagal serang China dan Rusia dengan skandal Panama Papers

Shares ShareTweet
Skandal Panama Papers diyakini sejumlah negara di dunia sebagai bentuk baru dari metode perang proksi Amerika Serikat untuk menciptakan kekacauan di negara-negara yang dituju, terutama untuk menghancurkan legitimasi para pemimpin dunia yang tercantum dalam dokumen Panama Papers. Dua negara rival AS, Rusia dan China adalah negara yang sedang disorot skandal Panama Papers, akankah di kedua negara tersebut terjadi 'Revolusi buatan' ala Amerika Serikat? (ilustrasi)

"Khawatir terhadap kesatuan bangsa Rusia, dan ini menyebabkan mereka mencoba mengguncang kita dari dalam. Membuat kita patuh pada mereka,"
Gerhana85.com - Runtuhnya Uni Soviet tak menjadikan Amerika Serikat merasa aman sebagai negara adikuasa. Ditambah lagi, Rusia, negara yang mewarisi kebesaran Uni Soviet kini kembali bangkit dari hibernasinya. Hal ini diperparah dengan kebangkitan China yang menjadi ancaman baru bagi AS, terutama di kawasan Asia.

Kini, Amerika Serikat beserta sekutu NATO-nya, Rusia dan China di lain kubu sudah kembali terlibat dalam perang proksi. AS mensponsori NATO dalam memperluas wilayah anggota, yang dianggap Rusia sebagai sebuah ancaman, China di Laut China Selatan, Rusia di Ukraina, Georgia, dan Suriah. Perang dingin antara para negara adikuasa mulai kembali terjadi.

Peristiwa terbaru yang menggegerkan dunia adalah terbongkarnya skandal Panama Papers. Bocornya dokumen perusahaan berbadan hukum Mossack Fonseca yang menguak cara pencucian uang para politisi ternama telah menghebohkan dunia.
Presiden China Xi Jinping, dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Dua pemimpin negara yang menjadi musuh abadi Amerika Serikat. Nama kedua pemimpin tersebut tercantum dalam bocoran dokumen skandal Panama Papers. (ilustrasi)
Banyak analisis internasional merasa yakin bahwa Panama Papers adalah hasil kerja dari badan intelijen AS, CIA, berdasarkan bukti yang ada. Hasil laporan Panama Papers sebagian besar melibatkan nama-nama pemimpin negara yang menjadi musuh Amerika Serikat, sebut saja, Rusia dan China.

Nama Presiden Rusia Vladimir Putin pun menjadi yang paling disorot. Putin disebut-sebut memiliki aset terbesar di perusahaan ilegal di kawasan surga pajak. Namun, Kremlin menyebut dokumen bernama Panama Papers itu ditujukan untuk menghembuskan isu Putinphobia menjelang pemilu presiden di Rusia. 

“Jelas sekali bahwa Putinphobia sudah mencapai tahap di mana orang tidak dimungkinkan lagi untuk bicara yang baik-baik tentang Rusia. Jadi semua orang cuma boleh bicara hal buruk tentang kita,” kata juru bicara kepresidenan Rusia, Dimitry Peskov, seperti dilansir dari The Guardian, Selasa (5/4/2016). 
Sebuah pemetaan dugaan keterlibatan Presiden Rusia Vladimir Putin, dalam skandal Panama Papers. Banyak pihak yang meragukan laporan dokumen tersebut, karena lemahnya data yang ada. (ilustrasi)
Selain nama orang nomor satu di Negeri Beruang Merah, nama istri Peskov juga terseret dalam bocoran dokumen firma yang berbasis di Panama tersebut. Namun sang jubir dengan lantang membantah informasi yang menyebut sang istri telah mengambil keuntungan secara ilegal dari suatu perusahaan yang terdaftar di Kepulauan Virgin, Inggris. 

“Istri saya tidak terlibat dan sama sekali tidak pernah memiliki perusahaan offshore. Dengan demikian, saya cenderung meragukan keaslian klaim lainnya,” tegas dia.

Sedangkan Presiden Rusia Vladimir Putin membantah, adanya 'elemen' korupsi apa pun terkait bocoran Dokumen Panama atau Panama Papers dengan mengatakannya sebagai upaya lawan-lawannya untuk mengguncang Rusia.  

"Khawatir terhadap kesatuan bangsa Rusia, dan ini menyebabkan mereka mencoba mengguncang kita dari dalam. Membuat kita patuh pada mereka," kata Putin.

Panama Papers Serang China

Sedangkan di China, media massa pendukung pemerintah, Global Times dalam editorialnya seperti dikutip AFP, menyatakan ada kekuatan jahat di dunia Barat berada di balik Panama Papers. Hal ini didasari tuduhan bahwa saudara ipar Presiden China Xi Jinping, dan dua anggota Politbiro Zhang Gaoli dan Liu Yunshan, disebut-sebut dalam dokumen bocoran skandal Panama Papers.
Saudara ipar Presiden China Xi Jinping, dan dua anggota Politbiro Zhang Gaoli dan Liu Yunshan, disebut-sebut dalam dokumen bocoran skandal Panama Papers.
Pemerintah China pun mengeluarkan kebijakan, memerintahkan seluruh wartawan dan media massa China untuk menghapus semua konten yang berkaitan dengan dokumen bocor dalam Panama Papers. 


"Pembebaran dokumen-dokumen itu mempunyai target-target politik dasarnya," ulas Global Times seraya menyatakan Amerika Serikat terlihat mempunyai pengaruh tertentu dalam pembocoran informasi sensitif kepada media.

Koran China ini melanjutkan, "aksi-aksi semacam ini adalah alat baru bagi negara-negara Barat untuk mengguncang elite politik dan organisasi-organisasi kunci negara-negara non Barat.

Tak Mendapat Sambutan

Mungkin Amerika Serikat berharap dengan senjata skandal Panama Papers, bisa setidaknya menghancurkan legitimasi para pemimpin negara yang menjadi musuh AS, dan namanya tercantum dalam bocoran dokumen, seperti halnya yang selama ini sering dilakukan AS di negara dunia ketiga seperti di Timur Tengah dan Afrika.
Pemimpin negara lainnya yang diduga terlibat skandal Panam Papers. (ilustrasi)
Namun, AS sepertinya harus kecewa, pasalnya skandal Panama Papers sama sekali tak mendapatkan sambutan di Rusia maupun China. Skandal Panama Papers justru menjadikan nama Presiden Rusia Vladimir Putin, semakin populer di mata rakyatnya, karena didasari tidak adanya bukti yang cukup masuk akal untuk memojokkan atau menjatuhkan popularitas sang presiden.

Begitupun di China, skandal Panama Papers justru menjadikan Partai Komunis China semakin memperkuat konsolidasi organisasi partai. Bahkan mayoritas rakyat China meyakini bahwa Amerika Serikat ingin menciptakan perang proksi di China, dengan menggunakan senjata skandal  Panama Papers.

Lalu apa yang akan dilakukan AS, ketika harapan untuk menciptakan 'Revolusi buatan' dengan tujuan menjatuhkan para pemimpin negara yang menjadi musuh mereka, gagal total? Amerika Serikat sepertinya harus sadar, bahwa tidak semua negara bisa dijadikan seperti Libya, Irak, Suriah, atau Sudan, yang dengan perang proksinya, menjadikan negara-negara tersebut hancur lebur dan diambang menjadi negara gagal.

Baca juga: Panama Papers, Skandal Keuangan yang Mengguncang Dunia


Sumber: Gerhana85/bbcindonesia.com

Tags

Shares ShareTweet
advertisement iklan

This blog is created for your interest and in our interest as well as a website and social media sharing info Interest and Other Entertainment.

Editor Picks